WILUJENG SUMPING DI SITUS SATORI Poenya

9.17.2008

Hikmah di Balik Super Toy HL-2

Hikmah apa yang berada di balik kontroversi dan polemik Super Toy HL-2? Paling tidak ada dua manfaat yang bisa dipetik. Pertama, masyarakat dididik bagaimana menghasilkan varietas unggul dengan risiko finansial dan sosial yang harus ditanggung inventor.
Kedua, kearifan lokal masyarakat Indonesia dalam merakit varietas baru dengan bahan induk (tetua) yang amat menakjubkan.
Masyarakat bisa mengetahui betapa panjang dan lama sebuah varietas padi unggul dihasilkan, termasuk biaya, tenaga, dan waktu. Sebagai gambaran, satu varietas baru dihasilkan dari screening terstruktur 40-50 galur (calon varietas) sehingga seorang pemulia padi (perakit varietas baru) harus menyiapkan kombinasi persilangan yang banyak untuk diuji di lapangan.

Diperlukan koleksi plasma nutfah (bank gen) yang memadai agar pemulia padi dapat mengintegrasikan sifat-sifat unggul untuk mengatasi berbagai masalah budidaya. Ketahanan terhadap cekaman lingkungan (kekeringan, kebanjiran), daya hasil yang tinggi, umur pendek, tahan hama dan penyakit utama (penggerek batang, wereng batang coklat), rasa pulen, kandungan vitamin tinggi, dan banyak lagi.
Menariknya, Super Toy HL-2 dihasilkan oleh seorang petani lulusan STM, padahal tugas itu biasanya dilakukan oleh pemulia (breeder) dengan pendidikan S-2 bahkan S-3.

Lokal genius varietas unggul

Penggunaan tetua tanaman padi lokal oleh Tauyung Supriyadi dalam pengembangan Super Toy HL-2 dimaksudkan agar kearifan lokal (local wisdom) yang ada pada varietas unggul lokal, seperti Rojolele, Pandan Wangi, dan varietas lain dapat diintegrasikan untuk menghasilkan galur unggul baru (calon varietas). Harapannya, integrasi beberapa kearifan lokal dapat menghasilkan genius lokal (local genius) sehingga spektrum adaptasi agroekosistemnya lebih luas.

Galur hasil silangan varietas Rojolele, Pandan Wangi, dan silangan lain kemudian diuji daya adaptasi dan daya hasilnya di lapangan sampai sifat unggul yang dihasilkan stabil kinerjanya. Berdasarkan pengalaman, diperlukan 4-6 tahun sebuah galur untuk mencapai stabilitas produktivitas dan daya adaptasinya. Untuk padi irigasi harus diuji di 12 lokasi berbeda agroekosistem.

Setelah stabil, lalu dilakukan uji multilokasi minimal di dua musim: musim hujan dan kemarau. Setelah mantap, pemulia bisa mengusulkan calon varietas dengan deskripsi tanamannya kepada Badan Benih Nasional (BBN) untuk dilepas.
Deskripsi, antara lain, memuat sifat unggul calon varietas baru, misalnya produktivitas, ketahanan terhadap hama dan penyakit, rasa, kandungan vitamin, ciri-ciri morfologi.

Selanjutnya BBN meminta Tim Pelepasan Varietas untuk menilai dokumen yang diusulkan pemilik calon varietas. Jika memenuhi syarat, seperti ditetapkan dalam pelepasan varietas, Kepala BBN membuat rekomendasi kepada Menteri Pertanian untuk dapat melepas varietas itu kepada masyarakat. Prosedur ini untuk melindungi petani dari pemalsuan sehingga benih yang ditanam benar-benar sesuai deskripsinya.

Pemuliaan partisipatif

Kemampuan masyarakat dalam menghasilkan varietas unggul baru harus diapresiasi karena merupakan kekayaan intelektual tidak ternilai. Kearifan lokal dan local genius ini merupakan benteng pertahanan kemandirian produksi benih dan pangan yang kini sedang digempur oleh perusahaan multinasional (MNC).

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian telah dan terus mendorong kearifan lokal dan genius lokal dalam program pemuliaan partisipatif (participatory breeding) baik untuk komoditas tanaman pangan, hortikultura, sayuran, buah-buahan, peternakan, dan perkebunan.

Selain dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan ternak secara nasional, hal itu juga dapat meningkatkan mutu genetik komoditas pertanian. Melalui program pemuliaan partisipatif dengan melibatkan petani secara in situ, Indonesia secara build in melakukan natural protection atas serbuan benih dan bibit impor MNC, bahkan belakangan kian mencemaskan dominasinya.

Peningkatan ketergantungan atas benih produksi MNC akan memosisikan membawa Indonesia kian terjebak masalah pangan. Mengingat bidang garapan pemuliaan partisipatif amat luas, diperlukan sumber daya manusia, dana, dan waktu besar. Kita memerlukan banyak Tauyung agar sumber daya genetika nasional bisa dieksplorasi maksimal guna mencapai swasembada pangan bahkan ekspor pangan.

Satu hal yang belum dapat dilakukan pemerintah hingga kini adalah pemberian penghargaan terhadap pemulia. Ketimpangan ini pernah dikemukakan seorang profesor yang kebetulan pemulia dengan membandingkan penghargaan yang diterima atlet olahraga dengan gemerlap hadiah seusai tampil sebagai juara.

Sementara itu, seorang pemulia berjuang 7-8 tahun dan belum tentu menghasilkan varietas unggul baru. Kalaupun berhasil, begitu varietas unggul dilepas, peneliti tidak mendapat penghargaan selayaknya. Inilah gambaran nasib pemulia yang kurang beruntung di negeri agraris yang banyak menggunakan jasanya.

Oleh: Gatot Irianto Kepala Badan Litbang Pertanian


Artikel yang berhubungan