WILUJENG SUMPING DI SITUS SATORI Poenya

9.17.2008

Dendang Keagungan

Suara adzan subuh bergema menggetarkan alam raya yang tengah terlelap oleh dinginnya malam. Dari masjid-masjid besar, musholla, hingga ke surau-surau kecil di dusun-dusun sepi di tepi sungai, suara itu bersahutan silih berganti mendendangkan keagungan sang pencipta.
Perlahan ia mengusap air matanya yang tumpah bergulir menganak sungai membasahi pipinya karena dendang keagungan itu. Setiap hari lima kali ia mendengar dendang keagungan itu, dan tiap kali ia mendengarnya ia pasti menangis. Semakin hari semakin banyak saja air matanya yang tertumpah, dan semakin perih dendang itu terdengar, namun kemudian terasa begitu sangat menyejukkan persis seperti luka yang diolesi obat penawar.

Ya, ia kini tengah terluka, terluka oleh keadaan di negerinya yang semakin kacau. Perampokan, pembunuhan, dan pemerkosaan hampir setiap hari terjadi, penjudi dan pemabuk terus bertambah, korupsi, kolusi dan nepotisme telah mendarah daging berakar menembus jiwa-jiwa manusia di negerinya itu, hanya suara dendang keagungan itulah yang menjadi obat penawar perih lukanya. Setiap ia mendengar dendang itu ditengah perih lukanya, ia merasa sangat sejuk dan harapannya yang kian hari kian menipis dan memudar bahkan hampir hilang sama sekali, perlahan kembali bersemi. Tetapi, semakin hari lukanya semakin lebar dan dalam, dan dendang keagungan itupun semakin sayup bahkan hampir tidak terdengar lagi.

Ia adalah anak seorang yang pernah memimpin negeri itu dan membawa negerinya ke puncak kejayaan dengan keluruhan akhlak. Ayahnya seorang raja yang sangat keras dengan pendirian yang sangat teguh untuk menegakkan hukum di negerinya, namun demikian memiliki hati yang sangat lembut, santun dan penuh senyum. Dibawah pimpinan ayahnya, negeri itu penuh dengan kedamaian, aman, dan tenteram. Bila pun ada yang berbuat kejahatan, mereka dengan cepat dapat ditumpas, dan tidak jarang ayahnya yang turun langsung menumpas kejahatan-kejahatan dan menyeret pelakunya ke depan hukum. Namun, dua puluh tahun yang lalu, disubuh seperti ini, disaat penghuni dunia tengah terlena oleh mimpi-mimpi di dalam belitan selimut, ayahnya tersungkur bersimbah darah di atas sajadah. Belati beracun menembus punggung ayahnya menumpahkan darah pemimpin penegak kebenaran itu dan membasahi Alquran yang sedang dibaca ayahnya. Ayahnya mati oleh nafsu, kebejadan dan angkara murka jiwa-jiwa yang tidak ingin hukum ditegakkan. Jiwa-jiwa itu telah menyusup dan mengambil alih tubuh manusia-manusia di negeri itu, bahkan telah merampas akal dan kesadaran para pejabat pemerintah.

Semenjak kematian ayahnya, keluarganya diusir, dihinakan, dan difitnah dengan kotor dan sangat keji, tetapi jiwa dan darah ayahnya yang keras dan teguh yang mengalir di dalam tubuhnya membuatnya semakin yakin dengan apa yang disebutnya sebagai “syahid”. Keadaannya dan keluarganya yang telah terpinggirkan itu sungguh tidak membuat surut tekadnya untuk berjuang menegakkan hukum, akhlak dan kebenaran seperti yang dilakukan ayahnya. Ia menyerukan hukum dan kebenaran yang diyakininya di setiap tempat yang dilaluinya dan di setiap masjid dan langgar yang disinggahinya. Ia terus melakukan itu hingga pada suatu hari berita itu sampai ketelinga penguasa dan pejabat pemerintah yang tubuh mereka telah dirasuki oleh jiwa-jiwa yang penuh dengan nafsu dan kesesatan dunia. Mereka sangat cemas oleh apa yang dilakukannya, mereka sungguh tidak rela jiwa-jiwa itu menghilang. Sebab bila jiwa-jiwa itu tercerabut dari hati manusia-manusia di negeri itu, tidak akan ada lagi yang mendukung mereka dan membenarkan mereka melakukan kekejian-kekejian dan kesesatan-kesesatan untuk memenuhi nafsu dunia mereka. Hukum telah mereka putarbalikkan, dan satu-satunya cara untuk melegalkan hukum buatan mereka adalah menjaga agar jiwa-jiwa sesat itu tidak menghilang tercabut dari manusia-manusia di negeri itu serta merampas kesadaran manusia-manusia itu lalu menggantikannya dengan nafsu dunia.

Suatu pagi, seperti pagi-pagi yang lain, hitam dan dingin dengan aroma tanah yang basah oleh embun, tetapi entah mengapa aroma dipagi itu terasa lebih pekat, angin yang biasanya berlalu membawa aroma dan dingin tidak lagi tampak berhembus, diam tidak bergerak. Suara-suara penghuni dunia malam yang biasanya ramai bersahutan menyambut datangnya pagi dan turut menghangatkan suasanapun lenyap bagai ditelan bumi tak bersisa. Seperti biasa, ia melakukan sholat subuh berjamaah dengan beberapa orang pengunjung tetap masjid itu yang jiwa mereka masih terlindungi oleh cahaya ilahi. Belum sempat ia mengucap salam untuk mengakhiri sholatnya, beberapa orang berbadan tegap dengan berpakaian tentara lengkap masuk ke dalam masjid dan langsung menyeretnya tanpa ada kesempatan bertanya, dan ia pun tidak akan bertanya sebab ia tahu tidak akan pernah ada jawabannya karena jiwa tentara-tentara itu telah mati terbunuh oleh mata pedang kesesatan hawa nafsu dunia.

Ia diikat dan diseret ke lapangan di tengah kota, di sana ia diikat dan dipasak di tiang salib dan diperlakukan seperti penjahat yang hina. Mereka mengumpulkan manusia-manusia di kota itu dan memaksa manusia-manusia itu untuk melemparinya dengan batu dan kerikil. Dari kejauhan tampak serombongan pasukan lengkap dengan senjata pedang, panah dan tombak sedang menuju ke arahnya. Seorang pemimpin mereka maju ke tengah-tengah lapangan dan mendekatinya lalu membacakan tuduhan-tuduhan kotor, hinaan dan fitnah-fitnah keji yang ditujukan kepadanya.

“Siapa yang berani menentang dan tidak mematuhi “hukum” di negeri ini, mereka akan bernasib seperti ini….”, teriak orang itu sambil mengarahkan telunjuk kearahnya tanpa menoleh. Lalu beberapa orang dengan bersenjatakan panah mengelilinginya dengan busur dan anak panah yang siap dilepaskan ke tubuhnya. Lalu dengan satu aba-aba, anak-anak panah mereka melesat menghujani menembus tiap inci tubuhnya. Darah pun kembali mengalir berkumpul di sekitar kakinya sehingga membentuk sebuah danau kecil berwarna merah berkilauan di bawah sinar matahari yang beranjak siang.

Sejurus kemudian, beberapa orang melepaskannya dari tiang salib dan meletakkan tubuhnya di atas tanah lapangan yang penuh dengan kerikil-kerikil tajam dan berdebu yang telah berubah warna oleh darahnya. Lalu dengan serentak puluhan orang bergerak menuju ke arahnya dan merekapun mulai menginjak-injak tubuhnya. Angin seakan berhenti tak kuasa untuk bergerak menyaksikan pemandangan mengerikan itu, awan-awan berkumpul menahan tangis mereka, pasir-pasir berdesir merintih, mataharipun meredup berusaha menghentikan penyiksaan itu, namun tak kuasa. Manusia-manusia itu telah dibutakan oleh hausnya nafsu sesat, ditulikan oleh keserakahan dunia, dan mungkin jiwa-jiwa mereka telah digantikan oleh jiwa iblis. Seakan tidak puas dengan semua yang telah mereka lakukan, mereka lalu memenggal kepalanya dan memisahkan dari tubuhnya. Mereka mengarak kepalanya berkeliling kota, melemparkannya ke dalam selokan yang penuh lumpur hitam dan berbau, menendang-nendangnya persis seperti sebuah bola yang sedang diperebutkan oleh para pemainnya.

Matahari telah tinggi dan hampir berada di titik pertemuan antara benda dengan bayangannya sebelum akhirnya tergelincir menuju ufuk barat. Orang-orang yang tadi berkumpul di lapangan berdarah itu telah pulang kembali ke rumah mereka masing-masing. Orang-orang yang mengarak kepalanyapun tidak lagi terlihat, hanya debu-debu yang bercampur pasir berterbangan mengikuti laju angin berhembus. Kini, tinggallah tubuhnya yang terkoyak berserakan dan mulai mengering oleh teriknya panas matahari tergeletak tanpa kepala dengan tombak dan anak-anak panah yang masih menancap, sedangkan di salah satu sudut lapangan itu kepalanya tergolek berselimut lumpur hitam berlapis debu. Ia telah mati, ya, ia mati demi mempertahankan akidahnya, ia mati demi tegaknya sholat, demi tunainya zakat. Ia terbunuh untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan yang diyakininya. Jasadnya terkoyak berserakan, tetapi jiwanya utuh tidak tergores sedikitpun, jiwanya abadi tersenyum dalam genggaman rahmat dan keagungan Tuhannya, dan kini ia tengah melayang menembus lapisan-lapisan langit biru menggapai cakrawala menjemput janji yang telah lama dinantikannya.

Adzan zhuhur memecah keheningan disiang yang terik itu, menyejukkan udara yang dibakar matahari. Suara dendang keagungan itu seakan mencoba menepiskan debu-debu yang membalut jasad dan kepalanya serta merekatkan kembali bagian-bagian tubuhnya yang tercabik dan terkoyak. Dendang keagungan yang biasanya mengalirkan air matanya ketika menyentuh dan mengusap perih luka hatinya, kini berubah menjadi sosok yang sangat cantik, harum dan menyejukkan. Sosok dendang keagungan itu tersenyum menemuinya dan menyambutnya dengan begitu hangat, menghantarkannya meninggalkan dunianya yang kotor dan hina yang penuh dengan jiwa-jiwa sesat nafsu iblis, membawanya terbang di atas hamparan bunga-bunga taman firdaus menyelinap diantara tumpukan awan-awan putih dan mengiringinya menemui Tuhannya.

Wahai jiwa yang tenang; Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas

lagi diridhai-Nya; Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku;

dan masuklah ke dalam syurga-Ku (AlFajr: 27-30)

Jakarta, April 2003

Artikel yang berhubungan