WILUJENG SUMPING DI SITUS SATORI Poenya

5.31.2009

Pengendalian Penyakit Layu Pada Tanaman Pisang

Pendahuluan

Penyakit layu pada tanaman pisang telah menjadi masalah nasional karena penyakit ini telah tersebar luas dan banyak merusak tanaman pisang di Indonesia dan belum berhasil dikendalikan. Penyakit layu ini disebabkan oleh: Cendawan Fusarium oxysporum if.sp. cubense; dan Bakteri Ralstonia solanacearum.



Gejala layu Ralstonia sp. pada daun

Sifat Patogen
Merupakan patogen tular tanah dan sanggup bertahan lama dalam tanah tanpa ada tanaman pisang. Sekali tanah terinfeksi oleh patogen ini, patogen dapat bertahan dan menjadi sumber inokulum/infeksi yang sukar dibersihkan.
Patogen dapat menyebar melalui bibit, alat-alat pertanian, tanah, angin yang menerbangkan tanah terinfeksi, serta terbawa melalui pengairan . Penyebaran patogen (layu bakteri) dapat juga melalui influorescens (bunga) yang ditularkan oleh serangga. Penularan oleh serangga menyebabkan penyakit tersebar dengan cepat terutama pada saat pembuahan.
Patogen ini memiliki kecepatan penyebaran yang tinggi. Sebagai patogen luka, akan sinergik menimbulkan layu jika ada seranagn nematoda.
Sangat dipengaruhi oleh tipe tanah. Layu fusarium akan berkembang pada tanah berpasir yang masam, dan kurang berkembang pada tanah yang liat dan alkalis. Sebaliknya, tanah yang liat dan alkalis akan sangat kondusif bagi layu lakteri (Ralstonia solanacearum).


Gejala layu Ralstonia sp. pada buah

Pengendalian
1. Cara Bercocok tanam
a. Penanaman bibit bebas penyakit (kultur jaringan atau anakan tanaman/rumpun sehat), serta tidak menenm bibit dari daerah terserang penyakit layu.
b. Pemupukan dengan pupuk organik (pupuk kandang atau pupuk kompos),
c. Menghindari terjadinya pelukaan akar saat pemeliharaan tanaman, pemindahan bibit, dan pembumbunan.
d. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang tidak sefamili dengan pisang, misalnya jagung.
e. Pengapuran atau pemberian abu dapur jika pH tanah rendah (minimal 15 abu dapur jika pH tanah (minimal 15 hari sebelum tanam)
f. Santasi gulma
g. Tidak menanam tanaman inang lainnya, yaitu jenis Heliconia (pisang pisangan) dan Kanna (bunga tasbih)
h. Perbaikan drainase kebun
i. Memotong bunga jantan segera setelah sisir buah terakhir dbentuk
j. Pengerodongan bunga dan buah dengan plastik
k. Tanam Pindah cepat secara periodik (± 3 Tahun)

2. Cara Fisis/Mekanis
a. Memotong bunga jantan (jantung pisang) tanpa menggunakan alat (dengan tangan) segera setelah sisir buah terakhir terbentuk
b. Pembongkaran tanaman sakit kemudian membakarnya (jika memungkinkan)
c. Penggenaan, jika memungkinkan


3. Genetis
a. Penggunaan varietas tahan sesuai dengan kondisi setempat.

4. Biologis
a. Penggunaan agens antagonis (Gliocladium sp, Trichoderma sp.) dan Pseudomonas fluoressence, yang dicampur dengan pupuk organik.

5. Kimiawi
a. Alat-alat pertanian yang digunakan untuk memotong tanaman sakit dicuci bersih dengan sabun atau klorox 1% (misalnya Bayclin) dan dikeringkan di bawah sinar matarai.
b. Eradikasi tanaman sakit dengan menyuntikkan larutan herbisida 5-15 ml/tanaman atau dengan minyak tanah.
c. Benih pisang dicelupkan dalam larutan desinfektan (suci hama) sebelum ditanam.

6. Peraturan
a. Tidak membawa bibit (anakan) dari daerah serangan)


Gejala layu Fusarium sp. pada batang (penampang irisan)

Artikel yang berhubungan