WILUJENG SUMPING DI SITUS SATORI Poenya

5.22.2009

Si Kukut

“Si Kukut”, begitulah kami menyebutnya. Dialah yang kini menemani saya ke tempat bekerja. Setap hari tiak kurang dari 100 km ditempuhnya mengantar saya pergi dan pulang bekerja. Sebutan “Si Kukut” terlontar karena usianya yang cukup tua dan yang pasti jenis dan modelnya sudah mendekati “kuno”, namun tetap dipelihara oleh Bapak saya. Kukut sendiri berasal dari bahasa sunda “dikukut” yang artinya “dipelihara”.
Sebelum saya gunakan, “Si Kukut” sebenarnya sudah berada di gudang selama hampir 2 tahun. Dia dibiarkan sendiri, sepi, berdebu, kedinginan, dan yang pasti pajaknya tidak dibayarkan. Kemudian, saya datang dengan kabar gembira dan langsung membawanya ke bengkel. Dua hari “Si Kukut” dibengkel, dibedah dan disatukan kembali kabel-kabel yang sempat putus, dan akhirnya dia bia kembali mengaum dan menggeram bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya.
Sembilan belas (19) tahun yang lalu, tepatnya tahun 1990, mertua saya (Bapak) membeli “Si Kukut” dengan hasil keringatnya mengajar di Sekolah Dasar. Selama 15 tahun, “Si Kukut” menemani Bapak dengan setia pergi dan pulang mengajar.

Setelah Bapak pensiun, “Si Kukut” dipergunakan oleh adik istri saya sebagai kendaraan operasional dari rumah ke toko dan sebaliknya. Karena tidak dirawat dengan semestinya, :Si Kukut” pun mulai “ngambek”. Lalu beralih kepemakaian ke tangan kakanya istri saya yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah daerah kabupaten lebak. Karena jarak dari rumah ke kantornya cukup jauh, maka diguakanlah “Si Kukut” sebagai kendaraan “dinas”. Ditangan beliau, keadaan “Si Kukut” sedikit lebih baik dari sebelumnya. Oli, busi, ban, dan accu lumayan diperhatikan.
Namun, badai sekali lagi datang menggulung kehidupan “Si Kukut”, kali ini kakak istri saya itu mendapat jatah motor dinas dari kantornya. “Si Kukut” pun mulai jarang diperhatikan dan yang pada akhirnya benar-benar ditelantarkan selama ua tahun di gudang yang pengap dan berdebu.
Kini, cerita bahagia dimulai lagi. Dengan semangat 45, “Si Kukut” menemani saya menempuh hari-hari penuh perjuangan mencari rejeki dan membangun negeri ini. Mudah-mudahan perjuangan “Si Kukut” mendapatkan balasan yang berlipat, amin…



Artikel yang berhubungan