Pemuliaan tanaman padi bertujuan untuk menghasilkan berbagai varietas padi ungul baru yang memiliki sifat lebih baik dibandingkan dengan varietas ungul yang telah ada, antara lain; hasil dan kualitas hasil lebih baik, toleran terhadap faktor pembatas biotik dan abiotik, adaptif terhadap spesifik lokasi serta sesuai dengan preferensi konsumen. Sebagian besar dari varietas padi unggul yang telah dilepas dihasilkan melalui program persilangan dan seleksi yang memerlukan waktu cukup lama hingga 5-7 tahun bahkan lebih. Dalam upaya menyediakan varietas unggul baru dengan waktu yang relatif lebih cepat dapat dilakukan antara lain melalui pemanfaatan teknik kultur antera.
Teknik kultur antera dapat mempercepat waktu pemuliaan melalui pembentukan galur haploid ganda (galur murni) dari polen tanaman F1, sehingga seleksi untuk sifat unggul yang diharapkan dapat dilakukan lebih awal. Secara teknis kultur antera padi terdiri dari dua tahap; yaitu tahap induksi kalus dari polen yang terdapat dalam antera tanaman F-1 (hasil persilangan antara tetua yang memiliki karakter diharapkan), dan tahap regenerasi tanaman dari kalus menjadi planlet. Planlet hasil regenerasi tanaman selanjutnya diaklimatisasi dan dipelihara hingga fase generatif. Planlet hijau yang dihasilkan pada umumnya berupa tanaman haploid ganda, sehingga dapat menghasilkan biji dan diperbanyak untuk evaluasi lebih lanjut.
Salah satu kendala pemanfaatan teknik tersebut adalah rendahnya produksi planlet hijau yang dihasilkan dan tidak semua genotipe memiliki daya kultur antera. Perbaikan teknis aplikasi untuk meningkatkan produksi galur-galur haploid ganda terus dilakukan. Hingga saat ini teknik kultur antera telah berhasil dimanfaatkan dalam perakitan galur-galur harapan baik pada padi sawah maupun padi gogo. Melalui teknik kultur antera galur-galur harapan dapat diperoleh dalam waktu 2,5 tahun.
Kata kunci: Kultur antera F-1, haploid ganda, seleksi, galur harapan
Sumber: Priatna Sasmita http://pangan.litbang.deptan.go.id/index.php?bawaan=berita/fullteks_berita&&id_menu=3&id_submenu=3&id=125
7.29.2010
Pemanfaatan Teknik Kultur Antera Pada Pemuliaan Tanaman Padi
6.05.2010
Innalillahi Wainna Ilaihi Roji'uun...
Innalillahi Wainna Ilaihi Roji'uun... Telah berpulang ke Rahmatullah, Mertua saya yang bernama H. Muharram, di Rangkasbitung, Banten.
Tadi malam, tepatnya tanggal 4 Juni 2010pukul 23.20 WIB, mertua saya itu wafat dengan sangat tenang di Rumah sakit Umum Daerah Lebak, Rangkasbitung.
Pagi harinya sekira jam 09.00 WIB, beliau dilarikan ke UGD karena sesak nafas. Sekira pukul 11.00 beliau dipindahkan ke ruang Anyelir 17. karena memang kondisi beliau yang sudah sangat lemah, pihak rumah sakit mengatakan hanya bisa pasrah. dan akhirnya pada pukul 23.20 WIB, beliau menghembuskan nafas terakhirnya dengan sangat tenang....Subhanallah...
Sebenarnya pihak keluarga juga sudah pasrah, dan tidak tega melihat penderitaan beliau selama beberapa tahun terakhir. Dari mulai penyakit jantung, sesak nafas, diabetes, asam urat, hemorhoid, dan yang terakhir kanker ganas. Penyakit ginjalpun sempat beliau idap disebabkan kankernya yang sudah menjalar ke organ tubuh lainnya.
setiap kali beliau merasa sesak nafas, atau kesakita disalah satu bagian tubuhnya, kami sungguh sangat tidak tega melihatnya. dan setelah beberapa tahun yang panjang beliau berjuang bertahan hidup dengan penyakit-penyakit tersebut, akhirnya tadi malam beliau dapat kembali tenang....sangat tenang...
Tadi siang, sekira pukul 13.00, beliau dikebumikan di TPU di pasir sukarayat, rangkasbitung timur, rangkasbitung. Kini, beliau telah kembali kepada SANG PENCIPTA....
Selamat Jalan Ayah, Bapak, Abah, Kakek Kami.....Mudah-mudahan Semua Amal perbuatannya diterima di sisi ALLAH SWT...dan diterima iman islamnya, Amiin....
"WAHAI JIWA YANG TENANG, KEMBALILAH KEPADA TUHANMU DENGAN RIDHO. MAKA MASUKLAH KALIAN KEDALAM SYURGAKU.....
Si Koe2t Ngambek.....
Pembaca masih inget cerita saya tentang sebuah sepeda motor tua yang begitu setia mengantarkan dan menemani saya bertugas, dan keluarga kami memberikan nama "Si Kukut"? Minggu lalu dia ngambek....!!!
Ceritanya begini....
Minggu lalu, kegiatan saya sangat padat. Pergi pagi-pagi sekali, dan pulang bisa sampai magrib dirumah. tidak ada waktu saya untuk mengecek si kukut secara keseluruhan, paling-paling hanya ban dan rem saja. Ternyata saat itu ban si kukut sudah teramat gundul, sehingga mau tidak mau harus segera diganti. Dengan senang hati saya mengganti ban si kukut dengan ban baru yang sedikit mahal agar bisa bertahan lebih lama dan dapat melalui jalan berbatu dan licin. Alhamdulillah, setelah diganti ban, si kukut tampak lebih gagah dan lebih mantap dijalan. Namun....Keesokan harinya, ketika saya akan berangkat dengan terburu-buru karena katanya akan datang petugas dari provinsi, si kukut tidak mau hidup....
Saya berusaha memperbaiki semampu yang saya bisa dan mengerti, tapi...si kukut tetap tidak bergeming. Saya pikir karena businya, karena waktu saya buka businya banyak bensinnya alias banjir. lalu saya ganti dengan busi yang baru, dan hasilnya....si kukut tetap tidak merespon.
Beruntungnya saya karena hari itu istri saya tidak ada jam pelajaran disekolah tempatnya mengajar, jadi saya bisa menggunakan "mio" istri saya. Hari itu masalah terselesaikan....Sayapun berangkat dengan nafas sedikit terengah-engah dan kepala saya penuh dengan pikiran tentang "ngambeknya' si kukut. Hari itu saya pulang agak larut, langsung mandi, makan, dan karena kecapean langsung tidur.
Keesokan paginya, dengan penuh harap si kukut bisa berbunyi seperti biasanya.dengan semangat 45 saya mengeluarkan si kukut dari garasi, dan...dua, tiga, empat kali di selah, si kukut tetap diam seribu bahasa.....ough....sedihnya hati ini....
Hari itu dengan setengah harapan yang telah melayang, saya terus mencoba dan mencoba lagi. lagi...dan lagi...Namun si kukut mugen tak beringsut. Sampai-sampai hari itu saya tidak masuk kerja demi menyembuhkan kembali si kukut. Hari itu hari jum'at. setelah jum'atan, saya merasa tak ada yang bisa saya lakukan lagi, mau tidak mau harus membawanya ke bengkel.... Nah...itulah hal yang berat juga. Di dekat perumahan tempat saya tinggal, ternyata belum ada bengkel motor yang bisa service. ada bengkel-bengkel ganti ban, atau tambal aja. Dengan semangat yang terus saya pertahankan, akhirnya saya mendorong si kukut dari rumah saya menuju toko aksesoris motor terdekat dan satu-satunya di sana. Lalu dengan tenaga yang sudah hampir lenyap dan nafas-nafas satu-satu, saya memberanikan diri bertanya bisakah memperbaiki motor saya...? salah satu orang yang ada di toko itu menjawab, BISA....!! Alhamdulillah...oke kalo begitu, tolong perbaiki kukut....
Dengan lumayan cekatan, si abang montir tadi memeriksa si kukut, dan ternyata dia mendapati kabel-kabel yang sudah putus....Allahuakbar....ternyata itu penyebab si kukut tidak mau membuka matanya. Setelah disambung kabel ini itu, akhirnya si kukut kembali bersuara lantang....Alhamdulillah....si kukut kembali....
5.15.2010
Prinsip Bertani Secara Organik

Oleh: Ahmad Satori
Pertanian organik telah lama didengungkan. Semua sektor berebut untuk menjadi yang paling organik. Dari mulai produsen saprotan hingga produsen beras. namun hingga saat ini pelaku utama usaha pertanian yaitu para petani kebanyakan masih enggan untuk mengelola usaha taninya dengan bertani secara organik. Mengapa? Mari kita merenung sejenak.
Menurut IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements), prinsip pertanian organik didasarkan pada Prinsip kesehatan, Prinsip ekologi, Prinsip keadilan, dan Prinsip perlindungan.
Prinsip KESEHATAN
Pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan, manusia dan bumi sebagai satu kesatuan dan tak terpisahkan. Prinsip ini menunjukkan bahwa kesehatan tiap individu dan komunitas tak dapat dipisahkan dari kesehatan ekosistem; tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman sehat yang dapat mendukung kesehatan hewan dan manusia. Kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem kehidupan.
Hal ini tidak saja sekedar bebas dari penyakit, tetapi juga dengan memelihara kesejahteraan fisik, mental, sosial dan ekologi. Ketahanan tubuh, keceriaan dan pembaharuan diri merupakan hal mendasar untuk menuju sehat. Peran pertanian organik baik dalam produksi, pengolahan, distribusi dan konsumsi bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan kesehatan ekosistem dan organisme, dari yang terkecil yang berada di dalam tanah hingga manusia. Secara khusus, pertanian organik dimaksudkan untuk menghasilkan makanan bermutu tinggi dan bergizi yang mendukung pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan. Mengingat hal tersebut, maka harus dihindari penggunaan pupuk, pestisida, obat-obatan bagi hewan dan bahan aditif makanan yang dapat berefek merugikan kesehatan.
Prinsip EKOLOGI
Pertanian organik harus didasarkan pada sistem dan siklus ekologi kehidupan. Bekerja, meniru dan berusaha memelihara sistem dan siklus ekologi kehidupan. Prinsip ekologi meletakkan pertanian organik dalam sistem ekologi kehidupan. Prinsip ini menyatakan bahwa produksi didasarkan pada proses dan daur ulang ekologis. Makanan dan kesejahteraan diperoleh melalui ekologi suatu lingkungan produksi yang khusus; sebagai contoh, tanaman membutuhkan tanah yang subur, hewan membutuhkan ekosistem peternakan, ikan dan organisme laut membutuhkan lingkungan perairan. Budidaya pertanian, peternakan dan pemanenan produk liar organik haruslah sesuai dengan siklus dan keseimbangan ekologi di alam. Siklus-siklus ini bersifat universal tetapi pengoperasiannya bersifat spesifik-lokal. Pengelolaan organik harus disesuaikan dengan kondisi, ekologi, budaya dan skala lokal. Bahan-bahan asupan sebaiknya dikurangi dengan cara dipakai kembali, didaur ulang dan dengan pengelolaan bahan-bahan dan energi secara efisien guna memelihara, meningkatkan kualitas dan melindungi sumber daya alam. Pertanian organik dapat mencapai keseimbangan ekologis melalui pola sistem pertanian, membangun habitat, pemeliharaan keragaman genetika dan pertanian. Mereka yang menghasilkan, memproses, memasarkan atau mengkonsumsi produk-produk organik harus melindungi dan memberikan keuntungan bagi lingkungan secara umum, termasuk di dalamnya tanah, iklim, habitat, keragaman hayati, udara dan air.
Prinsip KEADILAN
Pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu menjamin keadilan terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup bersama. Keadilan dicirikan dengan kesetaraan, saling menghormati, berkeadilan dan pengelolaan dunia secara bersama, baik antar manusia dan dalam hubungannya dengan makhluk hidup yang lain.
Prinsip ini menekankan bahwa mereka yang terlibat dalam pertanian organik harus membangun hubungan yang manusiawi untuk memastikan adanya keadilan bagi semua pihak di segala tingkatan; seperti petani, pekerja, pemroses, penyalur, pedagang dan konsumen. Pertanian organik harus memberikan kualitas hidup yang baik bagi setiap orang yang terlibat, menyumbang bagi kedaulatan pangan dan pengurangan kemiskinan.
Pertanian organik bertujuan untuk menghasilkan kecukupan dan ketersediaan pangan maupun produk lainnya dengan kualitas yang baik. Prinsip keadilan juga menekankan bahwa ternak harus dipelihara dalam kondisi dan habitat yang sesuai dengan sifat-sifat fisik, alamiah dan terjamin kesejahteraannya. Sumber daya alam dan lingkungan yang digunakan untuk produksi dan konsumsi harus dikelola dengan cara yang adil secara sosial dan ekologis, dan dipelihara untuk generasi mendatang. Keadilan memerlukan sistem produksi, distribusi dan perdagangan yang terbuka, adil, dan mempertimbangkan biaya sosial dan lingkungan yang sebenarnya.
Sumber: Tabloid sinartani edisi Maret 2010
Membuat Penakar Hujan Sederhana

Oleh: Ahmad Satori
Data curah hujan kini telah menjadi bagian penting penunjang keberhasilan berusaha tani. Namun persoalannya, untuk mendapatkan data tersebut tidak gampang, perlu alat penakar untuk mengumpulkan data tersebut. Lagi-lagi persoalannya, alat penakar ini cukup mahal dan sulit dicari. Untuk menyiasatinya kita bisa membuat alat penakar curah hujan yang sederhana.
Alat penakar ini bisa dibuat dengan bahan-bahan yang ada dan tanpa mengeluarkan biaya yang banyak, tetapi dengan tetap memegang teguh prinsip-prinsip pengukuran curah hujan yang diberikan oleh BMKG.
Penakar hujan ini terdiri dari :
a. Sebuah corong yang dapat dilepas dari bagian badan alat, mulut corong (bagian atasnya) terbuat dari botol plastik air minum dengan luas 100 Cm2 yang direkatkan pada penutup kaleng badan penampung air hujan.
b. Badan tempat menampung air hujan menggunakan kaleng biskuit.
c. Kaki yang berbentuk silinder.
d. Gelas ukur penakar hujan yang diletakkan di dalam badan penampung air hujan.
Yang harus diperhatikan adalah:
1. Syarat - syarat pemasangan :
a. Penakar hujan harus dipasang pada lapangan terbuka, tanpa ada gangguan di sekitar penakar, seperti pohon dan bangunan, kabel atau antene yang melintang di atasnya. Jarak yang terdekat antara pohon / bangunan dengan penakar hujan adalah 1 kali tinggi pohon / bangunan tersebut.
b. Penakar hujan tidak boleh dipasang pada tanah miring (lereng bukit), puncak bukit, di atas dinding atau atap.
c. Penakar dipasang pada balok bulat yang dicat putih dan ditanam (lihat gambar), sehingga tinggi penakar hujan dari permukaan corong sampai permukaan tanah 120 Cm.(lihat gbr), letak penampang corong harus datar (horizontal).
2. Cara pengamatan :
a. Pengamatan untuk curah hujan harus dilakukan tiap hari.
b. Buka penutup kaleng dan lihat air yang tertampung dalam gelas ukur.
c. Hasil pengukurannya yaitu volume air yang tertampung dibagi luas corongnya (100 Cm2) dan kemudian satuannya dijadikan millimeter (mm). Misalnya air yang tertampung sebanyak 170 ml. (170 Cm3) maka hasilnya adalah : 170 Cm3 : 100 Cm2 = 1.7 Cm = 17 mm. atau 1 mm sama dengan 10 ml (Cc). Untuk menghindarkan kesalahan parallax, pembacaan curah hujan pada gelas penakar dilakukan tepat pada dasar meniskusnya.
d. Bila dasar meniskus tidak tepat pada garis skala, diambil garis skala yang terdekat dengan dasar meniskus tadi.
e. Untuk pembacaan lebih kecil dari 0,5 mm, pada kartu hujan ditulis angka 0 (Nol) dan tetap dinyatakan sebagai hari hujan.
f. Jika tidak ada hujan, beri tanda ( - ) atau ( . ) pada kartu hujan.
g. Jika tidak dapat dilakukan pengamatan dalam satu atau beberapa hari, beri tanda (X) pada kartu hujan.
3. Pemeliharaan :
a. Alat harus selalu dijaga tetap bersih, dan dicat alumunium.
b. Kayu di cat putih, supaya tahan lama terhadap rayap dan cuaca.
c. Corong harus tetap bersih, tidak boleh tertutup oleh benda-benda atau kotoran yang dapat menyumbatnya.
d. Badan penampung air hujan harus sering dikontrol dan dibersihkan dari endapan debu / kotoran.
e. Rumput di sekitar tempat penakar hujan dipasang, harus selalu pendek dan rapih tidak boleh ada semak semak di sekitarnya.
sumber: Tabloid sinartani Edisi Januari 2010
7.23.2009
Upaya Pengembangan Kawasan Buah Unggulan Tropika untuk Ekspor
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil buah tropis yang memiliki keanekaragaman dan keunggulan cita rasa yang cukup baik bila dibandingkan dengan buah-buahan dari negara-negara penghasil buah tropis lainnya.
Produksi buah tropika nusantara terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, pada tahun 2007 produksi buah Indonesia sebesar 17.116.622 ton atau naik sekitar 4,18 % bila dibandingkan dengan produksi tahun 2008 sebesar 17.831.252 ton.
Peluang pasar hortikultura internasional yang terbuka luas sampai saat ini masih belum dimanfaatkan secara baik oleh pelaku hortikultura nasional. Berbagai upaya peningkatan produksi dan mutu yang dilaksanakan seperti penerapan GAP/SOP, penataan rantai pasokan, pengembangan kelembagaan usaha dan peningkatan investasi di bidang hortikultura pada akhirnya diharapkan juga untuk dapat mengisi peluang pasar di tingkat internasional.
Perdagangan buah tropika di tingkat dunia terus mengalami peningkatan berdasarkan data FAO mengenai perdagangan (Morey, 2007). Pada tahun 2004, jenis buah tropika utama yang diimpor pada tingkat dunia adalah pisang (12,4 juta ton), nenas (1,6 juta ton), mangga (732 ribu ton) dan pepaya (208 ribu ton). Negara terbesar yang mengimpor buah tropika dalam bentuk segar adalah Amerika Serikat diikuti oleh negara-negara Eropa.
Volume ekspor total untuk mangga, manggis dan jambu biji dipasar dunia mencapai 1.178.810 ton dalam tahun 2005. Indonesia berkontribusi sebesar 1.760 ton atau 0,15 persen dari ekspor total dunia. Impor total dunia untuk ketiga komoditas tersebut mencapai 857.530 ton dan untuk Indonesia hanya sebesar 540 ton atau sekitar 0,06 persen (FAO, 2007). Dalam tahun 2006, ekspor total dari komoditas tersebut menjadi 901.520 ton senilai US $ 684,6 juta (NAFED, 2007).
Indonesia memiliki beragam jenis buah-buahan bermutu yang berpotensi untuk mendatangkan devisa bagi negara. Untuk total ekspor buah Indonesia pada tahun 2006 sebesar 26.236 ton atau senilai US $ 144.492.469, angka tersebut mengalami penurunan sebesar 39,92 % bila dibandingkan dengan volume ekspor pada tahun 2007 sebesar 15.761 ton atau senilai US $ 93.652.526. Sedangkan untuk tahun 2008 volume ekspor buah meningkat sebesar 105,50% dibanding tahun sebelumnya yaitu 32.389 ton dengan nilai US $ 234.867.444.
Selengkapnya : http://www.hortikultura.deptan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=240&Itemid=1
Breeder Penerima Anugerah HKI Luar Biasa DIKTI 2009
Berita Acara Pengumuman Calon Penerima
Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa
NOMOR : 747/D3/LL/2009
Yang bertanda tangan di bawah ini, penanggung jawab kegiatan Anugerah
Kekayaan Intelektual Luar Biasa:
Menimbang :
a. bahwa telah masuk proposal sejumlah 61 (enam puluh satu) untuk Bidang
Teknologi yang dilindungi Paten, 23 (dua puluh tiga) untuk Bidang Varietas
Tanaman yang dilindungi Hak PVT, dan 17 (tujuh belas) untuk Bidang Industri
Kreatif;
b. bahwa telah dilakukan penilaian terhadap proposal tersebut pada butir a oleh
Tim Penilai yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional.
Mengingat :
a. berita acara penilaian yang disampaikan oleh Tim Penilai untuk Bidang
Teknologi yang dilindungi Paten, Bidang Varietas Tanaman yang dilindungi
Hak PVT, dan Bidang Industri Kreatif;
b. hasil risalah rapat Tim Pengarah dengan Tim Penilai pada tanggal 16 Juni
2009 pukul 19.00 WIB bertempat di Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan Nasional.
Memutuskan :
Menetapkan sebagai CALON PENERIMA ANUGERAH KEKAYAAN
INTELEKTUAL LUAR BIASA 2009 sebagai berikut :
Bidang Varietas Tanaman yang dilindungi Hak PVT
No. Nama Sub Bidang Hasil Karya
1 Dr. Aan A. Daradjat Tanaman
Padi
Varietas unggul tanaman padi
2 Dr. Ir. Budi Marwoto Tanaman
Hias
Varietas unggul tanaman Krisan, Lili,
dan Anyelir
3 Dr. Ir. H. Sudjindro, MS Tanaman
Perkebunan
Varietas unggul tanaman Kenaf
4 Dr. Ir. Srijani Sujiprihati, MS Tanaman
Sayuran
Varietas unggul tanaman Cabe dan
Pepaya
5 Ir. Nurul Hidayati Tanaman
Sayuran
Varietas unggul tanaman Tomat, dan
Terong
6 Prof.Ir.H. Achmad Baihaki,MSc.Ph.D. Tanaman
Serealia
Varietas unggul tanaman Kedelai
dan Jagung
7 Dr. Abdul Razak Purba Tanaman
Perkebunan
Varietas unggul tanaman Kelapa
Sawit
8 Dr. Ir. Darman Moudar Arsyad,MS Tanaman
Serealia
Varietas unggul tanaman Kedelai
9 Ir. Asep Harpenas Tanaman
Sayuran
Varietas unggul tanaman Cabe, Paria
dan Kacang Panjang
Jika tidak ada keberatan dari semua pihak, Calon Penerima akan ditetapkan sebagai
Penerima Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa pada tanggal 1 Juli 2009
Jakarta, 17 Juni 2009
Penanggung Jawab Kegiatan
ttd
Suryo Hapsoro Tri Utomo
NIP. 131471476
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI
Gedung DIKTI Jl. Jenderal Sudirman Pintu Satu, Senayan, Jakarta 10270
Tlp. 021 -57946043 (Hunting); Faks. 021-5731846 website: http://dp2m-dikti.net/ email: sip@dp2m-dikti.net
7.13.2009
LOMBA FILM DOKUMENTER “CINTA BUAH INDONESIA”
LATAR BELAKANG
Berdasarkan rekomendasi FAO (Food and Agriculture Organization), untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia, konsumsi buah-buahan yang dianjurkan adalah 60 kg/kapita/tahun. Menurut data SUSENAS pada tahun 2005 konsumsi buah-buahan di Indonesia masih kurang dari 32 kg/kapita/tahun. Berdasarkan fakta tersebut, di tahun-tahun mendatang permintaan buah-buahan Indonesia masih terus meningkat, seriring perbaikan kesejahteraan masyarakat.
Beberapa jenis buah konsumsinya meningkat dari tahun ke tahun antara lain jeruk, semangka, duku, dan durian. Di sisi lain ada pula beberapa jenis buah yang tingkat konsumsinya cenderung menurun seperti pisang, pepaya, dan nanas. Buah-buahan yang konsumsinya cenderung meningkat ini adalah buah yang tinggi volume impornya seperti jeruk dan durian. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa telah terjadi pergeseran preferensi konsumen dari buah nasional ke buah impor. Beberapa alasan konsumen untuk mengkonsumsi buah impor yang utama adalah rasanya yang dianggap lebih memenuhi selera konsumen. Selain itu juga karena faktor harga yang bersaing dengan buah nasional, sementara penampilannya dianggap lebih baik.
Target pasar buah impor pada awalnya adalah golongan berpendapatan menengah ke atas melalui supermarket dan gerai khusus buah, namun faktanya sekarang sudah masuk ke gerai pasar tradisional. Para importir buah-buahan sub-tropik umumnya pemodal kuat, sehingga mereka mempunyai fasilitas gudang penyimpanan yang berpendingin. Kondisi ini juga telah meningkatkan dayasaing buah impor, karena importir dapat mengatur kapan, kemana dan bagaimana cara pemasaran yang paling tepat untuk memperoleh tingkat keuntungan yang optimal. Untuk itu diperlukan upaya secara gencar untuk mempengaruhi konsumen dalam mengalokasikan pendapatannya untuk mengkonsumsi buah lebih banyak ke arah buah nasional. Tentu saja berbagai strategi dan program untuk peningkatan daya saing buah nasional dari sisi suplai tetap perlu dilakukan.
Terdapat beberapa alternatif program promosi untuk mendorong konsumsi buah nasional. Sebagai contoh pemerintah dapat mencarikan kerjasama dengan perusahaan nasional yang loyal dan prihatin akan keterpurukan ekonomi bangsa, sehingga bersedia mengiklankan buah-buahan nasional. Biaya iklan relatif mahal apabila sepenuhnya harus dibayar swasta. Karena itu harus dibantu dari layanan masyarakat pada TV swasta dan TV pemerintah, radio, media cetak, dan billboard di tempat-tempat yang strategis.
Instrumen promosi yang tidak kalah pentingnya adalah yang berkaitan dengan pendidikan konsumen. Seringkali konsumen maish belum tahu jenis-jenis buah nasional yang mempunyai kandungan gizi yang lebih baik daripada buah impor. Sebagai contoh buah manggis mempunyai antioksidan yang tinggi yang di luar negeri digunakan sebagai bahan baku obat cancer. Pisang Raja Bulu yang sudah dilepas oleh Menteri Pertanian mempunyai kandungan beta karoten tinggi, rasanya manis namun glikemiks indeks-nya paling rendah dibandingkan pisang jenis lain. Tentunya masih banyak kelebihan buah nasional dibanding buah impor yang informasinya tidak diketahui oleh masyarakat. Penyebaran informasi Ini dapat dilakukan misalnya melalui pembuatan film pendek yang dikemas dalam CD. Sekaligus pula dapat disebarkan informasi yang dapat membangkitkan kesadaran kosumen akan industri buah nasional yang menyangkut hajat hidup petani, seperti dengan penyebaran tagline “Pastikan setiap rupiah yang Anda keluarkan menguntungkan petani Indonesia”.
SIGNIFIKANSI DAN TUJUAN KEGIATAN
Pengeluaran untuk konsumsi buah yang terus meningkat saat ini mengindikasikan bahwa sumber serat, vitamin dan mineral sudah tidak bertumpu pada sayuran saja. Data di negara maju menunjukan bahwa semakin tinggi pendapatan masyarakat semakin besar porsi dari pendapatan dialokasikan untuk konsumsi buah-buahan, sebagai upaya untuk mewujudkan hidup sehat. Buah dilihat bukan hanya sebagai sumber serat, vitamin dan mineral, akan tetapi kebutuhan karbohidrat dan kebutuhan gula sebagai sumber energi dan antioksidan mereka menyediakannya dari mengkonsumsi buah-buahan.
Upaya promosi melalui pembuatan film dokumenter ini terutama ditujukan untuk para ibu rumahtangga, remaja dan anak2 yang mempunyai akses untuk mengalokasikan anggaran belanjanya bagi kehidupan sehari-hari. Diharapkan mereka akan mengalokasikan anggarannya dengan bijaksana, karena telah diberikan informasi tentang cara hidup sehat dengan mengkonsumsi komoditi yang lebih besar manfaatnya bagi kesehatan tubuh, daripada mengkonsumsi sumber karbohidrat dan lemak secara berlebihan. Makanan siap saji yang semakin murah dan marak diadvertensikan dalam jangka panjang akan mengurangi proporsi sumberdaya yang sehat jasmani, apabila tidak diimbangi dengan informasi tentang altenatif hidup sehat dengan banyak mengkonsumsi buah. Pembuatan film ini akan sangat bermanfaat bagi halayak baik bagi konsumen buah serta bagi para pekebun. Kesadaran akan manfaat mengkonsumsi buah nasional, secara tidak langsung akan meningkatkan permintaan terhadap buah nasional yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani buah.
TEMA KEGIATAN
“Cinta Buah Indonesia”
KETENTUAN LOMBA
Kegiatan Lomba Lomba Pembuatan Film Dokumenter “Cinta Buah Indonesia” dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Peserta lomba adalah mahasiswa berbagai strata di perguruan tinggi dan siswa sekolah menengah.
2. Peserta harus memilih satu atau gabungan alternatif isu berikut:
· Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap buah nasional
· Meningkatkan citra buah nasional di gerai buah, pasar tradisional dan pasar modern
· Mendorong konsumsi rumahtangga terhadap buah nasional
· Teknologi produksi bagi peningkatan kualitas buah nasional
3. Buah harus mencakup minimal salah satu atau gabungan dari buah nenas, pepaya, pisang dan manggis.
4. Durasi film berkisar 15 sampai dengan 20 menit.
5. Film dalam format CD/DVD sudah diterima sekretariat paling lambat tanggal 31 Juli 2009 pukul 12.00 BBWI.
6. Tim juri terdiri atas tiga pihak: Direktorat Budidaya Buah Departemen Pertanian, Pusat Kajian Buah Tropika IPB dan Profesioanl di bidang perfilman.
7. Film dokumenter yang menjadi pemenang I sampai V akan digunakan sebagai bahan diseminasi/promosi non-komersial oleh Departemen Pertanian untuk mendorong industri buah nasional.
8. Peserta tidak dikenakan biaya pendaftaran.
9. Pemenang I sampai V akan memperoleh hadian dan penghargaan sebagai berikut:
· Pemenang I : Uang tunai Rp 5.000.000 + Piala Menteri Pertanian
· Pemenang II : Uang tunai Rp 3.000.000 + Piala Rektor IPB
· Pemenang III : Uang tunai Rp 2.000.000 + Sertifikat
· Pemenang IV : Uang tunai Rp 1.500.000 + Sertifikat
· Pemenang V : Uang tunai Rp 1.000.000 + Sertifikat
10. Pertanyaan dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi Sekretariat Lomba Pembuatan Film Dokumenter “Cinta Buah Indonesia”, dengan alamat Pusat Kajian Buah Tropika Institut Pertanian Bogor, Jl Raya Pajajaran Kampus IPB Baranangsiang Bogor 16144, Telp/Fax (0251) 8326881, email ipbfruit@indo.net.id, website http://pkbt.ipb.ac.id.
Ngaran-ngaran Usum
Pada bagian kedua “Belajar Bahasa Sunda Yu….” Kali ini membicarakan soal nama musim-musim yang biasa digunakan oleh orang sunda khususnya.
a. Nu patali jeung Kaayaan alam
1. Usum katiga = usum halodo
2. Usum mamareng = usum mimiti rek ngijih
1. usum dangdangrat = usum panyelang antara halodo jeung ngijih
2. Usum ngijih = usum hujan
3. Usum barat = Usum gede angin (nu jolna ti kulon)
4. Usum selatan = usum gede angin nu jolna ti kidul
b. Nu patali jeung kaayaan masyarakat
1. usum pagebug = usum loba nu gering/panyakit
2. usum sasalad = usum loba panyakit bari tepa
3. usum patepok = usum loba kawin
4. usum tigerat = usum kurang dahareun
5. usum paceklik = usum kakurangan pare/dahareun
c. Nu patali jeung kaayaan tatanen
1. Tatanen di sawah
i. Usum nyambut = usum mitembean ngagarap sawah
ii. Usum morekat = usum nyawah leutik
iii. Usum tandur = usum melakeun binih pare di sawah
iv. Usum ngarambet = mangsa patani miceunan jukut nu jaradi diantara tangkal pare
v. Usum celetu = mangsa pare geus mimiti cul cel aya buahan
vi. Usum beukah = mangsa pare geus loba buahna nu barijil
vii. Usum rampak = mangsa pare geus rata/papak beukah
viii. Usum panen = mangsa dibuat, ngala pare
ix. Usum jami = sabada panen
2. Tatanen di Huma
i. Usum nyacar = usum nyacar leuweung pikeun pihumaeun
ii. Usum ngahuru = meuleum kai jeung kakayon nu geus garing benang nyacar
iii. Usum ngaduruk = meresihan sarta ngaduruk kai nu can kabeleuman waktu ngahuru
iv. Usum ngaseuk = melak pare ku cara nyocog-nyocogeun kai meunang nyeukeutan tungtungna
v. Usum ngored/ngoyos = meresihan jukut nu jaradi diantara luwukan pare ku parabot kored
vi. Usum dibuat/ngetem = ngala pare make parabot etem
vii. Usum ngunjal = mawaan pare ti huma ka imah
Babasan jeung Paribasa
Belajar Bahasa Sunda yu…
Berikut ini ada beberapa peribahasa yang menggunakan bahasa sunda. Bagi para sastrawan sunda mohon sarannya.
1. Atah anjang = langka silih anjangan
2. Adigung adiguna = takabur, sombong
3. Ambek nyedek tanaga midek = napsu gede tapi tanaga euwueh
4. Anjing ngagogogan kalong = mikahayang nu lain-lain
5. Adat kakurung ku iga = lampah goreng hese leungitna
6. Alak paul = jauh pisan
7. Aki-aki tujuh mulud = geus kolot pisan
8. Ayem tengtrem = tenang teu aya kasieun
9. Asa teu beungeutan = awahing ku era
10. Anu borok dirorojok = nu titeuleum disimbeuhan = mupuas kanu keur cilaka
11. Amis = hade paroman
12. Aya jurig tumpak kuda = Aya milik nu teu disangka-sangka
13. Aya jalan komo meuntas = aya kahayang aya nu ngajak
14. Awewe dulang tinande = awewe nurutkeun kahayang salaki
15. Amis daging = babarian katerap panyakit
16. Abong letah teu tulangan = sagala dicaritakeun sanajan pikanyeurieun batur
17. Ari umur tunggang gunung, angen-angen pecat sawed = ari umur geus kolot, tapi ari kahayang sia budak ngora
18. Agul kupayung butut = agul ku turunan
19. Aya pikir kadua leutik = aya kahayang
20. Asa ditonjok congcot = ngarasa bungah pisan
21. Adean ku kuda beureum = ginding ku pakean meunang nginjeum
22. Birit aseupan = teu daek cicing
23. Biwir nyiru rombengeun = resep nyaritakeun ruisah atawa kasalahan batur
24. Bengkung ngariung bongkok ngaronyok = sauyunan, ngariung babarengan
25. Beurat birit = hese dititah
26. Bali gusan ngajadi = lemah cai kalahiran
27. Balungbang timur = nuduhkeun hate beresih
28. Bobo sapanon carang sapakan = aya kakurangan
29. Bilatung ninggang dage = bungah pisan
30. Batok bulu eusi madu = ninggang lain pitempateunana
31. Badak cihea = degig
32. Bonteng ngalawan kadu = nu hengker ngalawan nu bedas
33. Babalik pikir = insap
34. Balik pepeh = nu gering teu daek cicing
35. Balik ka temen = asal banyol jadi pasea
36. Buntut kasiran = medit
37. Bodo alewoh = bodo tapi teu daek tatanya
38. Bodo kawas kebo = bodo kacida
39. Beja mah beja = beja ulah waka dipercaya
40. Bancang pakewuh = pikasusaheun
41. Budak ker muejeuhna bilatung dulang = keur meujeuhna beuki dahar
42. Bulu kapaut = kabawa kubatur
43. Balabar kawat = beja nu seumebar
44. Beak dengkak = sagala ikhtiar geus diusahakeun tapi teu hasil bae
45. Batan kapok galah gawok = batan eureun kalah maceuh
46. Buruk-buruk papan jati = hade goreng dulur sorangan
47. Cueut kahareup = tereh maot
48. Deukeut-deukeut anak taleus = deukeut tapi taya nu nyahoeun
49. Disakompetdaunkeun = disamarutkeun
50. Dibejerbeaskeun = dijentrekeun, dieceskeun
51. Dog dog pangewong = acara panambah
52. Dibabuk lalaykeun = dibabuk kenca katuhu
53. Dagang oncom rancatan emas = teu saimbang
54. Dihin pinasti anyar pinanggih = papasten geus ditangtukeun ku gusti Alloh
55. Dug hulu pet nyawa = usaha satekah polah
56. Elmu ajug = bisa mapatahan batur, ari sorangan teu bisa ngamalkeun
57. Gantung denge = masih dedengeun
58. Ginding kekempis = ginding tapi sakuna kosong
59. Gede gunung pananggeuhan = boga andeleun pedah boga dulur beunghar
60. Garomengmengeun = taya kasabaran
61. Galehgeh gado = sagala dicaritakeun
62. Garo singsat = pagawean awewe dina aya ka teu panuju
63. Gurat batu = pageuh kana jangji atawa mawa karep sorangan
64. Goong saba karia = nonjolkeun maneh sangkan kapake ku dunungan
65. Goong nabeuh maneh = ngagulkeun diri sorangan
66. Getas hareupan = gancang napsu
67. Gindi pikir gelang bayah = goreng hate
68. Hampang birit = daekan kana gawe
69. Hamur congcot murah bacot = goreng carek tapi berehan
70. Heuras genggerong = omongana sugal
71. Hade gogog hade tagog = jalma sopan
72. Hutang salaput hulu = hutangna kaditu kadieu
73. Hurung nangtung siang leumpang = nu beunghar pangabogana dipake
74. Hejo tihang = sok pundah pindah gawean
75. Harigu manukeun = dadana nyohcor kahareup
76. Haripeut ku teuteureuyan = gancang kapincut kupangbibita
78. Mandap lanyap = omongana lemes tapi ngahina
79. Halodo sataun lintis ku hujan sapoe = kahaden mang taun-taun leungit kukagorengan sakali
80. Heureut pakeun = kurang kaboga
81. Hampang leungeun = gancang tunggal teunggel
82. Iwak nangtang sujen = ngadeukeutan pibahayaeun
83. Inggis batan maut hinis = paur pisan
84. Jalma atah warah = teu narima didikan sacukupna
85. Jati kasilih kujunti = pribumi kaelehkeun kusemah
86. Jauh-jauh panjang gagang = jauh-jauh teu beubeunangan
87. Kawas anjing tutung buntut = teu daek cicing
88. Kawas anjing kadempet lincar = gogorowokan menta tulung
89. Kawas bueuk meunang mabuk= ngeluk taya tangan pangawasa atawa jempe teu nyarita
90. Kokolot begog = budak pipilueun kana urusan kolot
91. Kurung batok = tara indit-inditan jauh
92. Kawas beusi atah beuleum = beungeutna beureum awaning ambek
93. Kawas nu dipupul bayu = leuleus taya tangan pangawasa
94. Kumaha geletuk batuna, kecebur caina = kumaha brehna
95. Kejot borosot = gampang nyokot kaputusan teu dipikir heula
96. Kabawa ku sakaba-kaba = kabawa ku nu teu puguh
97. Kahieuman bangkong = Jiga beunghar pedah katitipan barang batur
98. Katempuhan buntut maung = batur nu boga dosana urang nu katempuhanana
99. Kawas cai dina daun taleus = taya tapakna
100. Kawas jogjog mondok = teu daek repeh
101. Kelek jalan = deukeut tapi jalana taya nu lempeng
102. Kawas jaer kasaatan = teu daek cicing
103. Kawas gaang katincak = jempe
104. Kawas hayam panyambungan = lumbang limbung teu puguh
105. Kawas kuda leupas tina gedogan= ngarasa bebas
106. Kaciwit kulit kabawa daging = anak nu boga dosana kolot nu kababawa
107. Kandel kulit beungeut = euweuh kaera
108. Kujang dua pangadekna = pagawean nu maksudna dua cabak
109. Kokoro manggih mulud = makmak mekmek
110. Kawas kedok bakal = goreng patut pisan
111. Kaliung kasiput = loba baraya beunghar
112. Kawas kapuk kaibunan = leuleus taya tangan pangawasa
113. Kalapa bijil ti cungap = rusiah dicaritakeun kusorangan
114. Kawas kacang ninggang kajang = nyaritana capetang tur gancang
115. Kawas nyoso malarat rosa = malarat pisan
116. Kulak canggeum = milik nu geus ditangtukeun ku gusti Allah
117. Kembang buruan = budak nu keur resep ulin
118. Kawas leungeun palid = uyap ayap teu daek cicing
119. Kawas lauk asup kana bubu = hese rek kaluar
120. Kawas merak = beuki kana cengek
121. Kawas cucurut kaibunan = goreng patut pisan, kalimis
122. Kacai jadi saleuwi kadarat jadi salebak = sauyunan
123. Leuleus awak = daekan
124. Leuleus jeujeur liat tali = gede tinimbangan
125. Laer gado = kabitaan
126. Leutik-leutik ngagalatik = awakna leutik tapi gede kawani
127. Landung kandungan laer aisan = gede tinimbangan
128. Lalaki langit lalanang jagat = gagah perkasa
129. Lauk buruk milu mijah = marok-marokan maneh
130. Lesang kuras = teu bisa nyekel duit
131. Leumpeuh yuni = teu kuat nenjo nu cilaka
132. Lodong kososng ngelentrung = jalma loba ngomong pangartina kosong
133. Loba luang jeung dulang = loba pangaweruhna
134. Leutik ringkang gede dulang = manusa awakna leutik jiwana gede
135. Legok tapak genteng kadek = loba pangalaman
136. Meungpeun carang ku ayakan= api-api teu nyaho tapi nyaho
137. Murag bulu bitis = teu betah cicing di imah
138. Mindingan beungeut ku saweuy = ngarusiahkeun hiji perkara padahal batur geus nyahoeun
139. Miyuni kembang = loba nu mikaresep
140. Miyuni tai = loba nu mikangewa
141. Miyuni kohkol = nasibna diteungeulan bae batur
142. Monyet dibere sesengked = nu rek jahat dibere parabot
143. Mipit teu amit, ngala teu menta = cocorokot kana barang batur
144. Monyet ngagugulung kalapa = boga elmu teu nyaho maksudna
145. Mopo memeh nanggung = ngarasa hoream memeh digawe
146. Maut nyere kacongona = sangsara kakolotnakeun
147. Malengpeng pakel ku munding = migawe nu moal hasil
148. Nu asih dipulung seungit = kahadean dibales kahadean
149. Nete taraje nincak hambalan = tertib mapay ti handap
150. Nyeri beuheung sosonggeteun= ngalieukan nu rek datang
151. Ngajul bentang ku asiwung = pagawean nu moal aya hasilna
152. Ngabuntut bangkong = teu puguh tuluyna
153. Nyolong bade = bangun bageur tapi jahat
154. Nyeungeut damar disuhunan = barang bere hayang kapuji
155. Nyaah dulang = kabudak ngurus daharna wungkul,pendidikana teu dipirosea
156. Ngeplak jawer = taya wawanen
157. Ngadaun ngora = jadi rame
158. Nyoo gado = ngunghak
159. Nyalindung ka gelung = nu teu boga kawin ka awewe nu beunghar
160. Ngadu geulis = paalus-alus
161. Ngarep-ngarep kalangkang heulang = ngarep-ngarep rejeki bari teu usaha
162. Neundeun piheuleut = ngajak goreng
163. Ninggang kana kekecrek = nya goreng rupa nya goreng lampah
164. Ngalungkeun kuya ka leuwi = nitah balik ka lemburna
165. Ngawur kasintu nyieuhkeun hayam = ari kabatur bageur ari kadulur medit
166. Ngaboretekeun liang tai di pasar = nembongkeun wiwirang sorangan
167. Ngadeupaan lincar = api-api ngaliwat hayang diaku ngare-ngarep pamere
168. Nyiduh ka langit = sahandapeun mapatahan ka saluhureun
169. Ngeupeul ngahuapan maneh = ngaluskeun hiji perkara pikeun kauntungan pribadi
170. Nangkeup mawa eunyeuh = ditulungan akhirna nyilakakeun nunulungan
171. Ngadek saclekna nilas saplasna = nyarita sajalantrahna
172. Nyieun pucuk ti girang = miheulaan nyieun pipaseaeun
173. Ngageuingkeun macan turu = ngahudangkeun piambeukeun batur
174. Nulak cangkeng dina kelek = ngarasa luhur diri
175. Oray nyampeurkeun paneunggeul = nyampeurkeun pibahayaeun
176. Paanteur-anteur julang = silih anteurkeun
177. Panjang leungeun = daek puak paok
178. Panjang lengkah = jauh panyabaanana loba pangalamanana
179. Pindah pileumpangeun = robah adat
180. Paeh teu hos hirup teu neut = gering ngalanglayung
181. Pacikrak ngalawan merak = jalma hina ngalawan nu mulya
182. Piit ngeundeuk-ngeundeuk pasir = jalma lemah ngalawan nu kuat
183. Pupulur memeh mantun = menta buruhan memeh gawe
184. Puraga tamba kadenda = digawe tamba lumayan
185. Pagiri-giri calik pagirang-girang tampian = pakia-kia teu daek sauyunan
186. Rea ketan rea keton = taya kakurang
187. Silih jenggut jeung nu dugul = silih tulungan jeung nu teu boga
188. Saciduh metu saucap nyata = sakti ucapanana tara nyalahan
189. Sisit kadal = goreng milik
190. Sibanyo laleur = ngan saliwat geus beak deui
191. Saur manuk = ngajawab bareng
192. Sieun meubeut meulit = sieun kabawa
193. Teu gedag bulu salambar = taya kasieun
194. Titip diri sangsang badan = mihapekeun maneh
195. Teu beunang dikoet ku keked = medit pisan
196. Ti kikirik nepi ka jadi anjing = ti bubudak nepi ka sawawa
197. Ti ngongkoak nepi ka ngeungkueuk = ti ngora nepi ka kolot
198. Teng manuk teng anak merak kukuncungan = kalakuan kolot nurun ka anakna
199. Tuturut munding = sagala rupa nurutken batur
200. Wawuh munding = wawuh ngan saliwat