WILUJENG SUMPING DI SITUS SATORI Poenya

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

9.17.2008

Dendang Keagungan

Suara adzan subuh bergema menggetarkan alam raya yang tengah terlelap oleh dinginnya malam. Dari masjid-masjid besar, musholla, hingga ke surau-surau kecil di dusun-dusun sepi di tepi sungai, suara itu bersahutan silih berganti mendendangkan keagungan sang pencipta.
Perlahan ia mengusap air matanya yang tumpah bergulir menganak sungai membasahi pipinya karena dendang keagungan itu. Setiap hari lima kali ia mendengar dendang keagungan itu, dan tiap kali ia mendengarnya ia pasti menangis. Semakin hari semakin banyak saja air matanya yang tertumpah, dan semakin perih dendang itu terdengar, namun kemudian terasa begitu sangat menyejukkan persis seperti luka yang diolesi obat penawar.

Ya, ia kini tengah terluka, terluka oleh keadaan di negerinya yang semakin kacau. Perampokan, pembunuhan, dan pemerkosaan hampir setiap hari terjadi, penjudi dan pemabuk terus bertambah, korupsi, kolusi dan nepotisme telah mendarah daging berakar menembus jiwa-jiwa manusia di negerinya itu, hanya suara dendang keagungan itulah yang menjadi obat penawar perih lukanya. Setiap ia mendengar dendang itu ditengah perih lukanya, ia merasa sangat sejuk dan harapannya yang kian hari kian menipis dan memudar bahkan hampir hilang sama sekali, perlahan kembali bersemi. Tetapi, semakin hari lukanya semakin lebar dan dalam, dan dendang keagungan itupun semakin sayup bahkan hampir tidak terdengar lagi.

Ia adalah anak seorang yang pernah memimpin negeri itu dan membawa negerinya ke puncak kejayaan dengan keluruhan akhlak. Ayahnya seorang raja yang sangat keras dengan pendirian yang sangat teguh untuk menegakkan hukum di negerinya, namun demikian memiliki hati yang sangat lembut, santun dan penuh senyum. Dibawah pimpinan ayahnya, negeri itu penuh dengan kedamaian, aman, dan tenteram. Bila pun ada yang berbuat kejahatan, mereka dengan cepat dapat ditumpas, dan tidak jarang ayahnya yang turun langsung menumpas kejahatan-kejahatan dan menyeret pelakunya ke depan hukum. Namun, dua puluh tahun yang lalu, disubuh seperti ini, disaat penghuni dunia tengah terlena oleh mimpi-mimpi di dalam belitan selimut, ayahnya tersungkur bersimbah darah di atas sajadah. Belati beracun menembus punggung ayahnya menumpahkan darah pemimpin penegak kebenaran itu dan membasahi Alquran yang sedang dibaca ayahnya. Ayahnya mati oleh nafsu, kebejadan dan angkara murka jiwa-jiwa yang tidak ingin hukum ditegakkan. Jiwa-jiwa itu telah menyusup dan mengambil alih tubuh manusia-manusia di negeri itu, bahkan telah merampas akal dan kesadaran para pejabat pemerintah.

Semenjak kematian ayahnya, keluarganya diusir, dihinakan, dan difitnah dengan kotor dan sangat keji, tetapi jiwa dan darah ayahnya yang keras dan teguh yang mengalir di dalam tubuhnya membuatnya semakin yakin dengan apa yang disebutnya sebagai “syahid”. Keadaannya dan keluarganya yang telah terpinggirkan itu sungguh tidak membuat surut tekadnya untuk berjuang menegakkan hukum, akhlak dan kebenaran seperti yang dilakukan ayahnya. Ia menyerukan hukum dan kebenaran yang diyakininya di setiap tempat yang dilaluinya dan di setiap masjid dan langgar yang disinggahinya. Ia terus melakukan itu hingga pada suatu hari berita itu sampai ketelinga penguasa dan pejabat pemerintah yang tubuh mereka telah dirasuki oleh jiwa-jiwa yang penuh dengan nafsu dan kesesatan dunia. Mereka sangat cemas oleh apa yang dilakukannya, mereka sungguh tidak rela jiwa-jiwa itu menghilang. Sebab bila jiwa-jiwa itu tercerabut dari hati manusia-manusia di negeri itu, tidak akan ada lagi yang mendukung mereka dan membenarkan mereka melakukan kekejian-kekejian dan kesesatan-kesesatan untuk memenuhi nafsu dunia mereka. Hukum telah mereka putarbalikkan, dan satu-satunya cara untuk melegalkan hukum buatan mereka adalah menjaga agar jiwa-jiwa sesat itu tidak menghilang tercabut dari manusia-manusia di negeri itu serta merampas kesadaran manusia-manusia itu lalu menggantikannya dengan nafsu dunia.

Suatu pagi, seperti pagi-pagi yang lain, hitam dan dingin dengan aroma tanah yang basah oleh embun, tetapi entah mengapa aroma dipagi itu terasa lebih pekat, angin yang biasanya berlalu membawa aroma dan dingin tidak lagi tampak berhembus, diam tidak bergerak. Suara-suara penghuni dunia malam yang biasanya ramai bersahutan menyambut datangnya pagi dan turut menghangatkan suasanapun lenyap bagai ditelan bumi tak bersisa. Seperti biasa, ia melakukan sholat subuh berjamaah dengan beberapa orang pengunjung tetap masjid itu yang jiwa mereka masih terlindungi oleh cahaya ilahi. Belum sempat ia mengucap salam untuk mengakhiri sholatnya, beberapa orang berbadan tegap dengan berpakaian tentara lengkap masuk ke dalam masjid dan langsung menyeretnya tanpa ada kesempatan bertanya, dan ia pun tidak akan bertanya sebab ia tahu tidak akan pernah ada jawabannya karena jiwa tentara-tentara itu telah mati terbunuh oleh mata pedang kesesatan hawa nafsu dunia.

Ia diikat dan diseret ke lapangan di tengah kota, di sana ia diikat dan dipasak di tiang salib dan diperlakukan seperti penjahat yang hina. Mereka mengumpulkan manusia-manusia di kota itu dan memaksa manusia-manusia itu untuk melemparinya dengan batu dan kerikil. Dari kejauhan tampak serombongan pasukan lengkap dengan senjata pedang, panah dan tombak sedang menuju ke arahnya. Seorang pemimpin mereka maju ke tengah-tengah lapangan dan mendekatinya lalu membacakan tuduhan-tuduhan kotor, hinaan dan fitnah-fitnah keji yang ditujukan kepadanya.

“Siapa yang berani menentang dan tidak mematuhi “hukum” di negeri ini, mereka akan bernasib seperti ini….”, teriak orang itu sambil mengarahkan telunjuk kearahnya tanpa menoleh. Lalu beberapa orang dengan bersenjatakan panah mengelilinginya dengan busur dan anak panah yang siap dilepaskan ke tubuhnya. Lalu dengan satu aba-aba, anak-anak panah mereka melesat menghujani menembus tiap inci tubuhnya. Darah pun kembali mengalir berkumpul di sekitar kakinya sehingga membentuk sebuah danau kecil berwarna merah berkilauan di bawah sinar matahari yang beranjak siang.

Sejurus kemudian, beberapa orang melepaskannya dari tiang salib dan meletakkan tubuhnya di atas tanah lapangan yang penuh dengan kerikil-kerikil tajam dan berdebu yang telah berubah warna oleh darahnya. Lalu dengan serentak puluhan orang bergerak menuju ke arahnya dan merekapun mulai menginjak-injak tubuhnya. Angin seakan berhenti tak kuasa untuk bergerak menyaksikan pemandangan mengerikan itu, awan-awan berkumpul menahan tangis mereka, pasir-pasir berdesir merintih, mataharipun meredup berusaha menghentikan penyiksaan itu, namun tak kuasa. Manusia-manusia itu telah dibutakan oleh hausnya nafsu sesat, ditulikan oleh keserakahan dunia, dan mungkin jiwa-jiwa mereka telah digantikan oleh jiwa iblis. Seakan tidak puas dengan semua yang telah mereka lakukan, mereka lalu memenggal kepalanya dan memisahkan dari tubuhnya. Mereka mengarak kepalanya berkeliling kota, melemparkannya ke dalam selokan yang penuh lumpur hitam dan berbau, menendang-nendangnya persis seperti sebuah bola yang sedang diperebutkan oleh para pemainnya.

Matahari telah tinggi dan hampir berada di titik pertemuan antara benda dengan bayangannya sebelum akhirnya tergelincir menuju ufuk barat. Orang-orang yang tadi berkumpul di lapangan berdarah itu telah pulang kembali ke rumah mereka masing-masing. Orang-orang yang mengarak kepalanyapun tidak lagi terlihat, hanya debu-debu yang bercampur pasir berterbangan mengikuti laju angin berhembus. Kini, tinggallah tubuhnya yang terkoyak berserakan dan mulai mengering oleh teriknya panas matahari tergeletak tanpa kepala dengan tombak dan anak-anak panah yang masih menancap, sedangkan di salah satu sudut lapangan itu kepalanya tergolek berselimut lumpur hitam berlapis debu. Ia telah mati, ya, ia mati demi mempertahankan akidahnya, ia mati demi tegaknya sholat, demi tunainya zakat. Ia terbunuh untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan yang diyakininya. Jasadnya terkoyak berserakan, tetapi jiwanya utuh tidak tergores sedikitpun, jiwanya abadi tersenyum dalam genggaman rahmat dan keagungan Tuhannya, dan kini ia tengah melayang menembus lapisan-lapisan langit biru menggapai cakrawala menjemput janji yang telah lama dinantikannya.

Adzan zhuhur memecah keheningan disiang yang terik itu, menyejukkan udara yang dibakar matahari. Suara dendang keagungan itu seakan mencoba menepiskan debu-debu yang membalut jasad dan kepalanya serta merekatkan kembali bagian-bagian tubuhnya yang tercabik dan terkoyak. Dendang keagungan yang biasanya mengalirkan air matanya ketika menyentuh dan mengusap perih luka hatinya, kini berubah menjadi sosok yang sangat cantik, harum dan menyejukkan. Sosok dendang keagungan itu tersenyum menemuinya dan menyambutnya dengan begitu hangat, menghantarkannya meninggalkan dunianya yang kotor dan hina yang penuh dengan jiwa-jiwa sesat nafsu iblis, membawanya terbang di atas hamparan bunga-bunga taman firdaus menyelinap diantara tumpukan awan-awan putih dan mengiringinya menemui Tuhannya.

Wahai jiwa yang tenang; Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas

lagi diridhai-Nya; Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku;

dan masuklah ke dalam syurga-Ku (AlFajr: 27-30)

Jakarta, April 2003

[+/-] Selengkapnya...

Read More..

LUKISAN CINTA

“Wah, bagus sekali…”, beberapa orang memandanginya sambil berbisik satu sama lain memujinya. Entah sudah berapa orang yang mengatakan itu, mungkin seratus, seribu atau lebih, ia tidak pernah berniat untuk menghitungnya.
Dari sejak pertama ia berada di sana, banyak sekali yang datang hanya sekedar untuk memandanginya, memujinya, lalu pergi begitu saja. Sebenarnya ia tidak mau berada di sana, ia sangat tertekan meskipun banyak teman-temannya yang juga berada di sana dengan berjuta pujian yang setiap saat terlontar dari para pengagumnya.
“Aku tidak ingin di sini….”, teriakannya memenuhi seluruh ruangan, “Tempatku bukan di sini…, tempatku di hati kalian….”, teriaknya lagi sambil memelototi orang-orang yang juga menatapnya tajam. “Bawa Aku ke rumah kalian, bawa Aku ke tempat kalian bekerja, letakkan Aku dalam genggaman tangan kalian, ikutkan Aku disetiap langkah kalian, simpan Aku dalam pikiran kalian, simpan Aku di dalam hati kalian…..”, ia terus saja berteriak hingga suaranya hampir tidak lagi terdengar. Nafasnya satu-satu memaksanya menghirup udara ruangan itu yang semakin menipis oleh sesaknya orang-orang yang terus berdatangan.
Ia terdiam, matanya sayu dengan sekali-sekali terpejam, menunduk menahan desakan air matanya yang hampir tertumpah. Ia tidak lagi berteriak, suaranya habis, dan kini ia hanya bisa berbisik-bisik pelan, sangat pelan, mungkin seperti kepakan sayap kupu-kupu, ah…, bukan…., bukan seperti itu, mungkin lebih tepat seperti desir angin lalu. Ia berteriak setiap hari dari mula pertama ia berada di sana, dan hari itu adalah hari ketujuh ia berada di sana, tetapi tidak ada seorangpun yang mendengar teriakannya. Tentu saja…, ia hanyalah sebuah lukisan yang tergantung di dinding ruang pameran. Yang mendengar teriakannya hanyalah teman-temannya yang juga lukisan dan beberapa buah pahatan patung pualam yang diletakkan di tengah-tengah ruangan itu, mungkin hanya sebagai pemanis atau mungkin juga memang bagian dari pameran. Teman-temannya hanya diam, mereka tidak mungkin membantunya karena bila ikut berteriakpun tidak akan ada yang mendengar teriakan mereka dan hanya akan berlalu begitu saja dibawa oleh angin yang terus berganti.
Hari itu adalah hari terakhir pameran yang seperti biasa selalu padat dipenuhi pengunjung yang ingin menikmati goresan-goresan cat pelukis terkenal, mungkin sudah menjadi watak manusia yang selalu saja tersadar di saat-saat terakhir. Ia masih menunduk sedih dengan mata yang memerah karena habis menangis. Ah, kasihan dia, suaranya tidak akan pulih secepat itu, perlu beberapa hari untuk mengembalikan suaranya hingga ia dapat berteriak lagi. Tetapi…dasar keras kepala, atau mungkin ia sudah gila! Ia mulai mencoba berteriak lagi untuk yang terakhir kali sebelum seluruh suaranya lenyap, hilang sama sekali. Suaranya berat, tidak jelas, dan terputus-putus. Ia terus mencoba berteriak, berteriak dan berteriak lagi, karena mulai besok ia hanya akan berada sendirian di dalam ruangan yang luas, mewah dan wangi milik pembelinya, tetapi sangat sepi. Ya, setidaknya itulah kabar yang ia dengar dari teman-temannya yang lebih dulu pernah dimiliki oleh orang-orang kaya yang hanya karena gengsi, hanya karena mereka memiliki banyak uang, bukan karena mereka menyukainya apalagi mengerti akan arti dan pesan yang terkandung di dalamnya.
Seorang pria muda, umurnya mungkin baru sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun, dengan santai memasuki ruang pameran itu. Sesaat orang itu berhenti dan mengamati seluruh ruangan dengan matanya yang agak sipit dibantu oleh kaca matanya yang tidak terlalu tebal. Beberapa saat orang itu berdiam diri sambil terus matanya menatap lukisan-lukisan di ruangan itu satu persatu, persis seperti orang yang sedang berpikir tentang sesuatu atau mungkin sedang mencari sesuatu, entahlah yang jelas terlihat hanyalah dahinya yang mulai berkerut-kerut. Lalu dengan langkah yang sangat ringan, hampir seperti melayang, orang itu perlahan mendekati dirinya, mengamatinya, sebentar kemudian orang itu tersenyum.
“Apa yang kau tertawakan…?” ia yang sejak tadi hanya diam menunduk kembali bersuara karena polah orang itu meski dengan suara yang sangat parau, “Apa Aku terlihat lucu…?, Ah, paling-paling kau hanya akan mengatakan “wah, bagus sekali…” lalu kau akan pergi begitu saja, atau bila kau punya uang, kau hanya akan membeliku lalu meletakkanku begitu saja di rumahmu yang luas dan mewah…., iya kan…?! Hah! tetapi sepertinya kau tidak akan bisa membawaku pulang ke rumahmu, lihat Aku sudah ada yang membeli…..”, ia terus saja mengoceh sambil menunjukkan secarik kertas bertuliskan “sold”, dan orang itu tetap berdiri di depannya masih sambil tersenyum.
“Aku mengerti…”, tiba-tiba orang itu berbicara dengan rona muka yang sejak tadi diliputi senyum perlahan berubah muram persis seperti wajahnya, “Aku sangat mengerti apa yang kau rasakan…”. Mendengar ucapan orang itu, ia dan teman-temannya diam terpaku, ruangan itu menjadi senyap, suara pengunjung pameran yang tadi berbisik-bisik pun tidak lagi terdengar, semua mata tertuju ke arah orang itu.
“Kau mengerti apa..?, tahu apa kau tentang perasaanku…?”, ia balas bertanya dengan nada tinggi.
“Aku mengerti perasaanmu….., kau ingin orang-orang yang memandangmu mengerti akan arti goresan-goresan cat yang membentuk tubuhmu kan…?!, kau ingin mereka memahami pesan yang kau bawa, bukan hanya meletakkanmu di dalam ruangan-ruangan mereka yang luas dan mewah tetapi jiwa dan sikap kepribadian mereka sangat jauh bertentangan dengan apa yang mereka sebut sebagai keindahan, yaitu kau…, meskipun mereka juga tidak mengerti dimana indahnya dirimu…., Aku tahu mereka memujimu dan membelimu hanya karena mereka banyak memiliki uang, dan akan sangat bangga bila mereka juga disebut sebagai pencinta seni…., apalagi kau adalah masterpiece dari seorang pelukis terkenal….”, orang itu berkata lancar tanpa jeda membuat semua yang ada di ruangan itu terpaku, tidak terkecuali lukisan-lukisan yang masih tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan, orang itu bisa mendengar perkataan mereka…!, dan para pengunjung pameran pun tersentak, mereka hanya bisa terdiam melihat ada manusia yang bisa berbicara dengan lukisan.
“Kau….benar-benar bisa…mendengar apa…yang…Aku ucapkan…?”, ia kembali bertanya kali ini dengan nada yang lebih rendah dan rasa tidak percaya. Orang itu perlahan bergerak lebih mendekatinya dan kini jarak antara dirinya dengan orang itu hanya berjarak sekitar satu jengkal, kemudian orang itu kembali tersenyum.
“Aku mendengar semua yang kau ucapkan…., Aku pun mendengar semua teriakan-teriakanmu dari hari pertama pameran ini dibuka….”
“Bagaimana kau dapat mendengarku…?, padahal manusia-manusia yang lainnya tidak…”
“Kau tahu manusia tidak dapat mendengarmu….?”, orang itu balik bertanya, “Lalu mengapa kau terus menerus berteriak sampai suaramu hampir hilang, sedangkan kau tahu manusia tidak dapat mendengarmu…?”
“Entahlah, Aku hanya merasa sangat sedih melihat semua yang terjadi di dunia ini. Perampokan, pembunuhan, dan pemerkosaan hampir setiap hari terjadi, dan Aku hanya bisa berdiam diri, padahal Aku adalah cinta, Aku adalah harapan, Aku adalah kesadaran mulia bagi jiwa-jiwa manusia, Aku adalah pengingat kesucian hakikat manusia diciptakan. Aku lelah….., Aku capek…., tetapi apalah dayaku, Aku hanyalah sebuah lukisan yang tergantung di dinding ruang pameran….., yang dapat kulakukan hanyalah berteriak meskipun Aku tahu bahwa manusia tidak akan dapat mendengarku….”
Sejenak ia terdiam menahan kesedihan yang mendalam yang membuat kata-katanya tertahan di tenggorokannya, dan air matanya kembali tertumpah mengalir membasahi goresan cat yang membentuk tubuhnya hingga hampir melunturkannya.
“Lebih baik Aku menangis sampai air mataku memenuhi kanvas ini dan menghapus seluruh cat yang membentuk tubuhku, hingga akhirnya kanvas ini akan kembali putih dan aku tidak akan pernah lagi melihat semua itu….”
“Tidak….! kau harus tetap ada….!!”
“Untuk apa…?”
“Kau kira karena apa aku bisa mendengar ucapanmu…?!”
“Maksudmu…?”
“Semangatmu yang begitu besar memancarkan energi yang mampu menerangi dunia, keyakinanmu yang begitu teguh sebagai gambaran cinta, dan keinginanmu untuk menyadarkan manusia dengan teriakanmu memberikan kekuatan kepada halusnya hati untuk bersuara. Mungkin Tuhan telah memilih Aku sebagai orang pertama yang digerakkan hatinya untuk bersuara dan membuka tabir penghalang hingga Aku dapat mendengarmu. Aku yakin bila kau tetap ada, tetap pada keyakinanmu, pada pendirianmu, semangatmu akan lebih memancarkan sinar kedamaian, memancarkan cahaya cinta yang sangat didambakan manusia untuk menyirami jiwa gersang mereka, dan bukan tidak mungkin akan ada Aku-Aku lainnya yang terbuka hati dan pikirannya, yang dapat mengambil arti bentuk tubuhmu dan menyebarkannya di atas dunia ini, hingga suatu saat nanti, impianmu dan impian kita semua tentang cinta, kasih sayang, kedamaian, dan ketentraman akan dapat terwujud. Kita tidak boleh berputus asa, terutama kau….!!, karena kau adalah perantara pertama semangat itu. Tuhan telah menitipkan kepadamu cahaya-Nya dan kau harus menjaga itu semua….”
Matanya berkaca-kaca, beberapa bulir air matanya menetes jatuh membelai perih jiwanya. Tetapi kali ini bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata haru mendengar penuturan orang itu. Air matanya lebih jernih dari sebelumnya, terang bercahaya menyinari kanvas tempatnya berada dan memperjelas bentuk tubuhnya. Bibirnya yang terkatup rapat perlahan mulai bergerak membentuk sebuah senyuman di sudutnya, semakin lama semakin jelas terlihat pergerakan bibirnya yang dipenuhi barisan senyum mengangkat tulang pipinya ke atas hingga mendorong kelopak matanya menyipit hampir menyatu. Ia mengangguk tegas ke arah orang itu, sambil mempertahankan bentuk bibirnya yang meliuk ke atas seperti perahu, orang yang telah membuka hatinya, orang yang telah mengembalikan semangatnya untuk terus berjuang, dan orang yang telah menyalakan kembali cahaya Ilahi yang penuh dengan cinta dan kasih sayang untuk menerangi jalan manusia menuju kedamaian abadi.
Bentuk tubuhnya semakin nyata, lekuk goresan di tubuhnya jelas menebal, dan ia merasa menjadi seperti sebuah pahatan di atas pualam. Ia melayang keluar dari kanvas dan mulai merentangkan sayapnya yang agak kusut terlipat. Kepakan sayapnya menggetarkan udara di sekitarnya membentuk riak gelombang bergulung-gulung menghembuskan aroma yang sangat menyejukkan jiwa dan mampu membangkitkan kembali ruh-ruh cinta yang telah mati, memenuhi ruang pameran menerpa semua yang ada di dalamnya, lalu bergerak ke luar mengikuti arus angin berhembus.
Sejak itu, ia terus bergerak mengitari bumi dan alam semesta, mengepakkan sayapnya menjaga agar cahaya cinta tidak meredup dan agar seluruh jiwa dapat selalu diliputi senyum kedamaian. Hingga suatu hari, Tuhan berkata kepadanya, “Tugasmu telah selesai, beristirahatlah….”

Jakarta, April 2003


[+/-] Selengkapnya...

Read More..

9.15.2008

GADIS LUKISAN

Kembali ia pandangi lukisan yang baru saja diselesaikannya. Lukisan tentang seorang gadis bergaun putih ala eropa tahun lima puluhan dengan lima tangkai bunga mawar merah segar ditangannya, persis seperti ibu muda yang baru belajar menggendong bayi. Rambutnya yang pirang dan ikal diatur sedemikian rupa sehingga membentuk riak gelombang yang begitu indah seperti air laut yang menggulung ditiup angin menuju pantai dan pecah dihalau karang. Gadis itu tersenyum renyah, sumringah atau apalah istilahnya, yang jelas senyuman yang keluar dari sudut bibir mungilnya begitu manis, begitu….
ah, mungkin dia tidak pernah memikirkan persoalan-persoalan yang dibuat oleh pejabat-pejabat yang seharusnya membela rakyatnya tetapi malah menghancurkannya, atau mungkin dia tidak mau memikirkannya karena sudah bosan melihat tingkah para pejabat itu, atau memang dia tidak pernah tahu tentang semua itu, ya, mungkin saja…. Mata birunya yang bulat bersih tajam menatap siapapun yang mencoba meliriknya dan menjadikan setiap pengagumnya terpaku tak bergeming bagaikan terhujam tombak pasukan romawi. Itulah yag kini dialami oleh sang pelukis, ia terus saja memandangi gadis lukisannya itu tanpa ada rasa jemu, lelah lapar bahakan hauspun tidak. Mungkin ia sudah bosan menertawakan wajah korupsi dinegaranya yang begitu lucu atau lebih tepat disebut mengerikan, persis seperti badut-badut di dunia fantasi atau kebun binatang, bahkan lebih lucu daripada penghuni kebun binatang itu sendiri.

Sampai akhirnya ia terseret arus gelombang aneh menembus angan melewati batas waktu terbang masuk ke dalam lukisannya menuju gadis itu. Sebentar kemudian sampailah ia ke tempat gadis itu yang telah menantinya. Tempat yang lebih tepat disebut taman, ya, taman yang begitu luas penuh dengan bunga beraneka warna yang sedang mekar dan diselingi oleh pepohonan cemara dengan tepian daunnya yang bertingkat-tingkat, serta udaranya yang yang sejuk dingin yang dipenuhi dengan aroma bunga-bunga dan cemara yang khas. Mungkin semacam gagasan tentang taman firdaus yang disana manusia dapat hidup dengan tenang tanpa hingar bingar kekerasan atau yang semacamnya.

Tangan halus gadis itu menyambutnya dengan sangat hangat dan membawanya berjalan diantara bunga-bunga, silih bergantian melewati terang dan bayangan pohon cemara. Dan ia merasa persis seperti waktu masih kanak-kanak, ia senang berlarian mengejar kupu-kupu hanya sekedar untuk dipegangnya sesaat dan kemudian dilepaskannya kembali lalu mencari kupu-kupu yang lainnya dan terus begitu sampai ia merasa lelah, kemudian ia membungkukkan badannya dalam-dalam dan membiarkan kepalanya terayun mengamati dunia sekitarnya secara terbalik diantara kedua pergelangan kakinya. Pada saat itu segalanya terasa begitu luas dan terbuka, langit terbentang dan angin bertiup menyelusup melalui dedaunan menyibakkan rambutnya dan menggoyangkan bunga-bunga sehingga terangguk-angguk pada tangkainya.

Gadis itu membawanya terbang di atas hamparan bunga-bunga menyelinap diantara dedaunan cemara memutarinya dan bahkan sampai dipuncaknya. Sebuah tiupan angin menggoyang puncak-puncak cemara, seolah ingin mengajak cemara-cemara itu untuk melakukan gerakan dansa. Gadis itu kembali membawanya terbang, jauh melewati pegunungan, lautan, bahkan hutan rimba. Entah kemana ia akan dibawa, ia tidak akan pernah bertanya karena ia yakin gadis itu akan membawanya ke tempat yang indah, damai, dan tenang yang di sana ia lebih dapat berkonsentrasi ketika melukis atau hanya untuk menghabiskan sisa umurnya. Dan ketika mereka melintas di atas sebuah tempat yang sangat jauh dari galaksi bima sakti, gadis itu membawanya turun dan berhenti di sana. Tempat itu tampak seperti bumi, namun lebih biru, bersih, rapi, dan sangat sunyi. Mungkin seperti gambaran bumi ketika masih dihuni oleh malaikat.
Sepi, ya, sangat sunyi, sehingga suara kepakan sayap kupu-kupu yang sedang terbang kian kemari tidak beraturan begitu jelas terdengar. Sejak pertama mereka menemukan tempat itu, seterusnya mereka duduk di situ sepanjang waktu. Mereka banyak bercanda dan bercerita tentang apa saja yang terlintas dalam benak mereka. Dan ketika mereka terdiam karena kehabisan cerita, mereka hanya duduk sambil mengamati pohon-pohon pinus yang bergoyang dengan mengeluarkan suara berderit-derit ketika dahan-dahan mereka saling bersentuhan dan dedaunannya yang seperti rambut lurus seorang anak yang tertiup angin, mengamati burung-burung kecil yang bercanda dengan angin, mengamati sepasang merpati tua putih kecokelatan yang begitu asyik bergurau dengan suara dengkuran penuh nafsu.

Ia lalu merebahkan tubuh dan kepalanya dipangkuan gadis itu, samar-samar memandangi langit melalui matanya yang setengah terpejam. Kadang-kadang gadis itu melakukan gerkan-gerakan kecil, tawa atau pekikan berusaha menarik perhatiannya secara tiba-tiba memecahkan segenap keheningan itu. Sebuah hembusan angin yang sangat lembut menyelusup melalui celananya, bergulung dibalik pakaiannya, ia bisa merasakan hembusan angin itu mengeleser begitu lembut di atas perutnya, sedemikian halus seakan-akan ia sekadar merasakannya di dalam hati, namun mampu memaksa matanya untuk terpejam, dan ia tidak mampu lagi menolaknya hingga akhirnya ia benar-benar terlelap dipangkuan gadis itu.

Setetes air hujan menerpa wajahnya dan diikuti oleh tetesan-tetesan berikutnya yang berkejaran seolah ingin cepat-cepat menggapai tanah, membuatnya terlepas dari lelap tidurnya. Matanya langsung menangkap ada hal yang aneh yang tengah terjadi, gadis itu…..ya, gadis itu menghilang. Dengan panik dan tidak tahu harus mencari ke mana ditempat yang sangat asing baginya itu, ia berjalan menelusuri tanah-tanah becek berlumpur, taman-taman bunga yang basah, hutan pinus yang gelap, dan lembah serta tebing yang licin dan curam. Air hujan yang terus saja berjatuhan seperti ditumpahkan dari langit tidak dapat mencegahnya untuk berhenti walau sedetik pun. Tiupan angin pun kini tidak lagi lembut, bergulung-gulung menghempaskan apapun yang dilaluinya, mematahkan dahan-dahan pohon pinus yang tegap berdiri menjadikannya seolah-olah sangat rapuh. Ia terus saja berjalan mencari di setiap sudut hutan, di dalam semak belukar, dan di dalam taman-taman bunga, namun ia tidak dapat menemukannya juga. Ia bertanya pada angin, namun mereka hanya diam angkuh sambil terus menggoyangkan daun-daun pinus, ia bertanya pada pohon pinus, tetapi mereka sibuk mengerang meratapi dahan mereka yang patah oleh angin. Lalu ia bertanya pada awan yang bergerombol seperti sebuah kawanan domba di padang rumput yang sangat luas, namun mereka juga hanya diam membisu tanpa menoleh sedikitpun kepadanya yang tengah kelelahan dan menggigil karena menahan dingin. Rasa putus asa perlahan timbul di dalam hatinya. Tiba-tiba ia merasa seluruh tubuhnya lemas bagaikan tidak bersendi, kepalanya pening, matanya berkunang-kunang dan akhirnya ia jatuh terjerembab di tanah becek berlumpur.

Ia tersentak dengan suara petir di luar rumahnya. Dengan pandangan yang penuh makna dan hanya dapat dimengerti olehnya, matanya menatap sesuatu yang seakan pernah ia kenal, itulah gadis lukisannya yang sedang tersenyum memandanginya dengan tatapan yang mampu menimbulkan gejolak di dalam diri. Ia terus memandangi gadis itu tanpa bergeming sedikitpun, dan entah dorongan macam apa yang sedang dihadapinya membuat matanya berkaca-kaca. Dan dengan mata yang basah ia berucap setengah berbisik, “Aku pasti menemukannmu…..”

Jakarta, Februari 2003


[+/-] Selengkapnya...

Read More..

9.14.2008

BUITENZORG

Matanya menembus kaca jendela bus yang sedang membawanya menuju kota yang sarat dengan kenangan baginya, Buitenzorg. Bola matanya bergerak-gerak mengikuti irama deretan pepohonan dan rumah-rumah di pinggir jalan. Orang-orang dan kendaraan yang melaju di balik pepohonan dan rumah-rumah itu seakan hilang timbul persis seperti pola anyaman, tetapi kemudian lenyap sama sekali tidak berujung bagai direngkuh dan dililit dalam lingkaran perkasa semesta raya. Suasana di dalam kepalanya hiruk pikuk penuh warna berkelebatan silih berganti seperti sebuah pemutaran film tentang
perjalanan hidupnya. Kenangan tentang kota yang sedang ditujunya melayang-layang terbayang jelas di sudut ingatannya. Ada kerinduan yang mendalam terlihat jelas pada garis wajahnya. Bagaimana ketika ia pertama kali menjejakkan kakinya di kota itu dan memandang segala sesuatunya dengan seribu pertanyaan. Udaranya yang sejuk dan basah, langitnya yang hampir selalu tertutup awan, pohon-pohonnya yang tinggi besar dan tua dengan daun-daunnya yang rimbun dan saling bertaut menutupi jalan di bawahnya, dan…ya! kesemrawutan di terminal angkutan kotanya!

“Ah, sebentar lagi…, semuanya…”, gumamnya pelan.

Ia telah meninggalkan kota tempat meraih gelar kesarjanaannya itu selama hampir satu windu. Satu minggu setelah penyematan tanda kesarjanaannya, ia pergi meninggalkan kota itu, meninggalkan semua kenangan yang terukir di dalamnya dan hingga kini ia tidak pernah lagi melihatnya. Entah apa yang memaksanya untuk kembali ke kota itu, mungkin ia ingin mengulang kembali semua kenangan yang pernah ia lukis dengan goresan-goresan tinta dan warna warni cat polah tingkahnya yang penuh dengan semangat juang dan pemberontakan, dosa dan airmata penyesalan, serta harapan dan keputusasaan, entahlah, hanya ia dan Tuhan yang tahu.

Bus yang ditumpanginya baru saja melintasi gerbang tol kota itu, terlihat jelas bangunan rumah-rumah petak tempat kost mahasiswa yang tidak beraturan berjajar di balik pagar tol. Masih seperti dulu, bahkan tampak lebih rapat dan lebih tinggi. Beberapa saat kemudian, bus yang membawanya telah berada di jalan masuk terminal yang penuh dengan mobil-mobil angkutan kota yang berjejalan saling mendahului untuk mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya dan merekapun “ngetem” seenaknya. Ia baru beranjak turun setelah seluruh penumpang bus tidak lagi bersisa. Ada keraguan yang tiba-tiba menyergapnya ketika sampai di pintu bus, perasaan aneh yang baru kali ini ia alami, semacam penolakan terhadap sesuatu. Ia masih berdiri tertegun di pintu bus, dan dengan perlahan ia mencoba menghirup udara siang kota itu, merasakannya kembali setelah sekian lama. Tetapi udara yang baru saja menyelusup ke dalam rongga hidungnya membuat ia tersedak, ia langsung menutup hidungnya dengan sapu tangan. Udara kota itu yang sejuk dan basah sudah tidak ada lagi, kini udaranya penuh dengan asap kendaraan. Ia mulai kecewa sambil berjalan di sisi terminal yang sempit dan penuh sesak oleh pedagang.

Ia menyusuri setiap jengkal kenangan kota itu, mencoba merasakan kembali langkah-langkah yang sempat terayun, menimbulkan kembali hasrat dan kepedihan yang pernah tercipta, menilik setiap detil suasana seperti ingin meyakinkan sesuatu. Ia semakin kecewa melihat kampusnya yang dulu rindang, penuh dengan mahasiswa yang bercengkrama kini telah berubah menjadi sebuah mal!

“Oh kampusku...” Pikirannya melayang kembali kemasa kuliahnya dulu. Masih teringat jelas ketika ia dan teman-temannya sering bermain bola dilapangan yang kini hilang, begitu juga ketika mereka menanam jagung, tomat, kedelai dan cabai di lahan paktikum yang kini juga hilang dan telah menjadi bangunan beton itu.

Ia tiba di persimpangan pusat kota itu dengan sebuah monumen yang berdiri kokoh di tengahnya yang pasti mengingatkan setiap yang memandangnya akan sebuah kerajaan besar yang pernah berjaya ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Di depan monumen yang tegak menjulang angkuh itu, ia duduk di samping batu prasasti di tengah taman kecil sambil memandang jauh ke ujung monumen yang seperti hampir menyentuh langit. Ia mencoba mengorek sisa-sisa ingatannya yang terpendam di sudut otaknya, merangkai kembali potongan-potongan kenangan lusuh yang hampir terhapuskan oleh waktu. Garis wajahnya berubah cepat. Sebentar ia tersenyum, sebentar kemudian berubah datar dan dingin tanpa ekspresi, lalu perlahan air mukanya tampak menegang dan matanya penuh dengan kumpulan awan yang membuat titik-titik embun menggenang. Entah berapa lama ia berada di dalam rimba kenangan yang berputar acak di pertemuan dinding-dinding ingatannya ketika sebuah tiupan angin lembut membelai wajahnya. Angin itu melayang ringan di atas kepalanya membuat ujung-ujung rambutnya sempat bergerak-gerak seperti lambaian tangan anak kecil yang baru belajar memainkan jemarinya. Beberapa serpihan halus kapuk yang lepas dari tubuh buahnya yang pecah, bergetar, bergerak melayang mengikuti arus angin berhembus melintas di depan wajahnya membuat ia tersentak sesaat lepas tersadar.

“kapuk….”, gumamnya sambil menangkap serpihan putih itu. Bulan September adalah musim ketika buah-buah kapuk masak akan merekah dan melepaskan serpihan-serpihan putih halusnya yang seperti kapas ke udara bebas. Serpihan-serpihan itu melayang bebas kemana mereka suka, indah sekali. Dulu, ketika tiba musim seperti itu, ketika udara dipenuhi serpihan-serpihan putih kapuk, ia dan teman-temannya menyebutnya sebagai musim “salju”.

Beberapa saat ia memainkan serpihan kapuk itu dengan jemarinya sebelum tiba-tiba dahinya berkerut-kerut seperti teringat akan sesuatu.

“Angin ini…”, ia berucap perlahan sambil menghadapkan wajahnya ke arah angin yang tadi berhembus di atas kepalanya. “Hei, kau bukan angin yang dulu aku kenal…, siapa kau…?”

“Aku angin di sini…”

“Bukan…., kau bukan angin di sini, aku kenal betul dengan angin di sini dan aku masih ingat wajahnya yang selalu tersenyum itu…Di mana dia?”

“Aku menggantikannya…”

“Menggantikannya…?, apa maksudmu?, lalu kemana dia?, apakah dia…”

“Ya, dia sudah mati…”

Ia tersentak, wajahnya menegang dan matanya menatap tajam angin itu seperti ingin menegaskan ucapan yang baru saja didengarnya. Lidahnya kelu, bibirnya mengering bagaikan berjuta tahun diterpa kemarau, suaranya tersumbat di batang tenggorokannya, bergetar tetapi hampa. Jantungnya seperti berhenti berdetak sehingga darah di dalam tubuhnyapun tidak lagi mengalir, diam membeku. Nafasnya lambat satu-satu menahan desakan airmatanya yang menggenang dan hampir tertumpah oleh kepedihan yang sangat. Sahabat setianya telah mati…Sahabat yang selalu mau mendengarkan semua keluh kesahnya tanpa perasaan terpaksa, sahabat yang selalu mampu menghilangkan letihnya oleh belaian lembutnya, sahabat yang membuatnya selalu mampu melalui hari dengan ketenangan dan kelembutan yang mendamaikan jiwa.

Ia menatap lurus ke arah lalu lalang kendaraan dengan mata yang kosong, dingin tanpa makna. Wajahnya yang menegang perlahan meluluh dan dengan hampir tanpa suara, bibirnya mulai bergerak.

“Kapan dia mati…?”

“Dua tahun yang lalu. Dia tidak lagi mampu menahan terpaan asap kendaraan yang penuh dengan zat-zat berbahaya yang setiap hari terus bertambah. Pohon-pohon yang seharusnya membersihkannyapun telah banyak yang ditebang dan berganti dengan mal-mal dan pusat perbelanjaan yang tinggi besar dan angkuh yang semakin hari semakin banyak saja. Lihat saja kampusmu sekarang, hampir dua pertiga luasnya sekarang sudah berganti dengan mal! sedangkan kendaraan dan pabrik-pabrik terus saja mengeluarkan uap kotor mereka ke udara. Coba saja kau rasakan udara sekarang, panas, kotor, dan membuat sesak dada…”

“Ya, aku merasakan sangat jauh berbeda dengan ketika dulu aku masih di sini.Aku ingat, sebelum aku meninggalkan kota ini, dia sempat mengeluh kepadaku tentang pencemaran udara yang semakin hari semakin meningkat, tetapi ketika itu pohon-pohon masih bisa membersihkannya. Kasihan dia…”

Ia menarik nafas panjang. Beberapa saat suasana menjadi hening, mereka terdiam. Lalu dengan rasa penasaran, angin itu berkata memecahkan kebekuan diantara mereka.

“Maaf, boleh aku tahu bagaimana kau bisa mendengar perkataan kami, para angin…? Sejak semula aku diciptakan, aku belum pernah menemukan ada manusia yang mampu berbicara dengan angin”

Ia kembali menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya dengan cepat, matanya yang berlapis tipis airmata memaksa wajahnya untuk memandang awan-awan yang bergerak beriringan menutupi matahari, ia lalu memandang angin itu sambil tersenyum datar. “Entahlah, aku juga tidak mengerti bagaimana itu terjadi, yang aku ingat waktu itu aku tengah didera persoalan yang sangat berat dan aku sungguh merasa seperti seekor ternak yang kehilangan kawanannya, sendiri tanpa arah, sedangkan di balik semak serigala lapar tengah mengintai dengan tatapan kematian sambil menyeringai penuh hasrat. Ketika itu, aku duduk sendiri di bawah pohon kapuk di taman depan kampusku mencoba mencari jalan keluar dari persoalan yang menghimpitku. Aku sengaja mencari tempat yang paling sepi di tempat itu dan agak jauh dari keramaian orang-orang yang sedang berkumpul dan bercanda tanpa beban. Disaat pikiranku buntu dan kurasakan otakku hampir meleleh, disaat itulah aku merasakan adanya pergerakan angin yang melayang bercengkrama dengan daun-daun kapuk sehingga membuat suara gemerisik karena gesekan ranting dan daun. Lalu angin itu dengan sangat lembut menyelusup ke dalam pakaianku dan menggeleser di atas perutku membuatku merasa begitu sejuk dan nyaman, tidak pernah aku merasakan kesejukan seperti itu. Aku menghirupnya dalam-dalam hingga memenuhi seluruh ruangan di dalam paru-paruku. Tiba-tiba aku mendengar suara lembut yang melayang-layang di ruangan sekitar kepalaku, sangat lembut tetapi jelas terdengar membuatku menoleh ke sekitarku, tetapi tidak ada siapa-siapa di situ, hanya aku sendiri…”, ia berhenti sesaat sambil memperbaiki posisi duduknya.

Angin itu juga ikut memperbaiki posisi tubuhnya dengan wajah yang sangat serius. Ia tersenyum melihat tingkah angin itu yang entah bagaimana mengingatkan pada masa kecilnya yang selalu ingin mendengarkan dongeng kesukaannya meskipun hampir setiap hari ia mendengarnya. Ia lalu meneruskan ceritanya kembali.

“Aku sibuk menoleh mencari sumber suara itu ketika tiba-tiba suara itu terdengar lagi dan kali ini aku pastikan suara itu berada tepat di hadapanku, perlahan tapi pasti aku seperti melihat sebuah bayangan yang semakin jelas. Semenjak itulah aku dapat mendengar angin bahkan melihatnya. Setelah aku bertemu dengan dia, aku selalu bertukar pikiran dengannya, aku selalu meminta nasihat dan pertimbangannya bila ada masalah yang menimpaku, bahkan kami juga sering membicarakan masalah-masalah yang sedang terjadi di bumi ini. Kadang aku merasa seperti memiliki guru dan penasihat pribadi. Ah, Andai saja manusia dapat lebih bijaksana dan memperhatikan lingkungan, andai saja mereka mampu mengendalikan nafsu serakah dunia, tentu dia masih hidup saat ini…”

“Belum tentu…”, angin yang sejak tadi hanya diam mendengarkan ceritanya tiba-tiba angkat bicara, “Belum tentu dia masih hidup saat ini, mungkin Tuhan telah menakdirkan dia untuk mati dan digantikan oleh aku. Aku setuju agar manusia dapat lebih jernih dalam berpikir dan lebih bijaksana dalam bertindak demi menjaga kelestarian alam titipan Tuhan, tetapi jangan hubungkan itu dengan kematiannya, karena kematian adalah hak Tuhan untuk menentukannya. Memang ada sebab mengapa dia mati, dan mungkin Tuhan menginginkan dia mati dengan sebab itu…”

“Astagfirullah…”, ia menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya merasa malu oleh perkataan angin itu, “Maaf, aku terbawa emosi…”

“Sudahlah, sudah menjadi kewajiban kita sesama makhluk ciptaan Tuhan untuk saling mengingatkan, iya kan…!”

“Iya…”, ia mengangguk sambil tersenyum senang, “sepertinya kau semakin mirip dengan dia”

“Oh, ya?”

“Ya”

“Apanya?”

“Semuanya…”

Mereka terus berbincang dan semakin lama semakin seru saja seperti dua sahabat yang baru bertemu setelah bertahun-tahun berpisah. Sesekali terdengar deraian renyah tawa mereka bersaing dengan deru mesin-mesin dan bunyi klakson kendaraan yang semakin ramai. Waktu terus berputar dan mataharipun telah bergulir menuju bagian bumi yang lain menarik bayangan menjadi lebih panjang dari bendanya. Sementara itu, serpihan-serpihan putih kapuk bertebaran di udara, indah sekali…

[+/-] Selengkapnya...

Read More..