AIR kencing (urine) sapi ternyata bisa jadi obat pembasmi hama. Kebanyakan petani, mungkin aneh mendengarnya. Apalagi, urine sapi yang bau pesing itu setahu mereka bisa membuat layu tanaman.
Namun, di Pemkab Klaten, wacana terlontar tentang kemungkinan memakai urine sapi sebagai pengganti pestisida.
Dilatarbelakangi maraknya penggunaan pestisida modern yang memiliki kandungan zat kimia 100 persen dan bahan nonorganik, tiga guru SMKN I Trucuk yakni Haryono, Nanik Wulandari, dan Sumadi memutar otak.
Menurut mereka, penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus bagi tanaman bukan saja akan mengancam kesehatan manusia, tetapi juga bisa mengakibatkan pergeseran ekosistem dalam jangka panjang.
Organisme yang mestinya bisa bermanfaat bagi tanaman, terutama dalam penyerbukan, bisa ikut mati bersama hama tanaman. Sebab, pestisida kimia umumnya mengandung logam berat berkadar tinggi.
''Residu pestisida pada tataran yang tidak rasional akan menyebabkan buah dan sayuran tercemar,'' ujar Haryono, bersemangat, di hadapan tim juri yang diketuai Dr Esti Ismawati dari Universitas Widya Dharma.
Dia memaparkan keunggulan pestisida organik urine sapi. Sejak ditemukan dua bulan lalu, dia sudah menguji coba temuan itu di Kecamatan Wedi, Cawas, dan Trucuk.
Hasilnya, hama jenis wereng pada padi, trap pada kacang panjang, dan belalang, menyingkir atau mati. Selain itu, kandungan nitrogen urine sapi mencapai 2,7 persen. Artinya, ia bisa dijadikan pupuk.
Bau Cepat Hilang
Murahkah biaya pembuatannya? Haryono mengatakan hanya diperlukan drum plastik, kayu pengaduk, tabung, dan alat penumbuk bahan yang semuanya ada di sekitar kita.
Untuk mendapatkan pestisida bagi 500 meter persegi lahan, hanya diperlukan 60 liter urine sapi, 100 liter air, satu kilogram temulawak, daun lamtoro, kencur, tetes tebu, dan jahe.
Semua bahan itu ditumbuk halus dan dicampukan dalam air dan urine sapi. Setelah itu ditutup dalam drum selama 21 hari, agar terjadi fragmentasi. Setelah 21 hari. pestisida siap digunakan.
''Apa tidak malah membuat konsumen lari karena tak tahan baunya?,'' tanya Prof Sumitro Padmowiyono dari UGM. Ditanya begitu, Haryono meyakinkan tidak ada efek bau, sebab bau akan hilang beberapa hari setelah hama mati.
Lomba itu juga diikuti sembilan inovasi lain, seperti briket dari serbuk kayu karya Sutaryono, serbuk kayu untuk kerajinan karya Arif Isnan, modifikasi kompor minyak karya Jamaludin, mesin efisien BBM karya Joko Istiyanto.
Juga kerajinan dari limbah telur puyuh dan kayu hasil karya Tri Raharjo serta alat permainan dari limbah kayu karya Drs Suyudi.
suara merdeka
1.23.2009
Urine Sapi Bisa Jadi Pestisida Alternatif
1.21.2009
Inilah Tips Seputar Pemberian ASI
Sejatinya, memberi asupan ASI pasta melahirkan bisa menjadi sebuah proses yang tidak mudah bagi seorang ibu. Tubuh dan psikologis ibu bisa jadi masih sangat lelah. Oleh karena itu, harus ada dukungan suami. "Dukungan suami untuk memberi ASI eksklusif sangat diperlukan. Itu juga menentukan sukses tidaknya memberikan ASI eksklusif," kata Dokter Mulyadi dari Medizone Clinic.
Jaga makan, jauhi obat pelangsing
Suami disini bisa berperan sebagai partner sang ibu dalam mengurus bayi. Dengan demikian, ibu bisa mempunyai tenaga dan gizi yang cukup untuk memberikan ASI. Agar kuat mengalirkan ASI, seorang ibu juga perlu menjaga pola makannya. Untuk awal-awal bulan, sebaiknya ibu tak terlalu merisaukan perubahan tubuh. Yang penting, asupan gizi untuk bayi cukup. Bila tak mau badan melar terlalu besar, sang ibu bisa mengatur jam makan dan jumlah kalori yang bakal dikonsumsi. Asalkan tetap kenyang.
Yang tak kalah penting, setelah bersalin ada baiknya ibu juga beraktifitas. Tapi, olahraga ringan baru boleh dilakukan setelah enam minggu. Jauhi obat pelangsing karena akan memperburuk kualitas ASI.
Makin tegang, makin susah keluar
Banyak orang bilang, proses menyusui akan terjadi secara alamiah. Meski begitu, Dokter Mulyadi dari Medizone Clinic memberi beberapa tips agar ibu bisa sukses memberi ASI untuk bayinya. Pertama, tangan ibu harus bersih. Kedua, ibu harus santai. Kalau sang ibu tegang, ASI akan sulit untuk keluar.
Dokter Mulyadi menyarankan ibu menyusui dengan posisi duduk. Pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan, berikan ASI selama 5-10 menit lewat setiap payudara. Pada hari selanjutnya bisa ditambah hingga 15-20 menit untuk setiap payudara. "Secara insting si bayi pasti bisa menemukan puting susu si ibu," kata Susianto, ahli gizi dari Universitas Indonesia
Cara menyusui yang benar adalah puting susu masuk seluruhnya ke dalam mulut bayi. Ini juga salah satu cara mencegah puting susu tidak lecet. Bila bayi sudah kenyang, tekan dagu bayi agar mulut terbuka dan puting susu terlepas. Atau bisa juga dengan cara memasukkan jari kelingking ibu ke dalam mulut bayi. Yang pasti, jangan menarik keluar puting dari mulut bayi secara mendadak.
Konsumsi katuk agar aliran lancar
Kemampuan menyusui setiap ibu itu berbeda-beda. Ada yang kapasitas ASI-nya begitu banyak, ada pula yang hanya sedikit. Bagi mereka yang kandungan ASI-nya sedikit tau perlu risau. Ada beberapa tanaman yang bisa mamcu produksi ASI salah satunya daun katuk.
Daun katuk adalah daun dari jenis tanaman Sauropus adrogynus (L) Merr, famili Europhobiaceae. Sebutan lain daun katuk adalah memata (Melayu), simani (Minangkabau), kebing dan katukan (Jawa) serta kerakur (Madura). Manfaat daun katuk untuk memperbanyak ASI sudah dikuatkan beberapa penelitian. Seperti sat daun katuk diujicobakan ke kambing betina selama 15 hari, produksi susunya meningkat drastis hingga 1,5 kalinya.
Jika ingin alami, sebaiknya daun katuk direbus atau ditumbuk terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Tapi di zaman modern seperti saat ini, seperti dalam bentuk minuman sachet dicampur dengan susu, hingga dalam bentuk kapsul atau pil. Harganya juga cukup terjangkau.
kompas.com (Kontan/Epung Saepudin)
Kandungan ASI Lebih Stabil ketimbang Susu Formula
MUNGKIN tak ada susu apapun di dunia ini yang kandungannya bisa menyamai air susu ibu (ASI). Kelengkapan gizi dan nutrisi yang dimilikinya memungkinkan si bayi bisa bertahan hidup, tanpa harus mengasup makanan pendamping lainnya.
Salah satu kandungan penting dalam ASI adalah kolostrum. Zat ini berfungsi melindungi bayi dari berbagai penyakit. Dalam kolostrum terdapat protein, vitamin A, karbohidrat, dan lemak rendah yang berguna bagi bayi di hari-hari pertamanya.
Selain kolostrum, ASI juga mengandung taurin, decosahexanoic acid (DHA), dan arachidonic acid (AA). Ketiga kandungan tersebut sangat diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak bayi.
Memang, beberapa susu formula sudah memasukkan komposisi ini. Cuma, menurut ahli gizi Universitas Indonesia Susianto, kandungan gizi dalam susu formula seringkali tidak stabil karena adanya perubahan suhu. Maklum, biasanya, kandungan DHA dan AA dalam susu formula diambil dari ikan. "Kalau kandungan gizi di ASI pasti stabil," katanya.
Kelebihan utama ASI lainnya yang tak dimiliki oleh susu lainnya adalah zat imunologik. ASI mengandung zat antiinfeksi yang bersih dan bebas kontaminasi. Zat imun itu ada pada immunoglobulin, sekretori, dan laktoferin.
Zat immunoglobulin yang terdapat dalam kolostrum berfungsi mencegah terjangkitnya penyakit pada bayi. Lalu, zat sekretori yang dapat melumpuhkan bakteri patogen e-coli serta berbagai virus pada saluran pencemaan. Sementara laktoferin, sejenis protein, merupakan komponen zat kekebalan yang berfungsi mengikat zat besi di saluran pencemaan.
Meski kandungan gizi dalam ASI-begitu banyak, zat-zat tadi bakal mudah terserap tubuh bayi. Kandungan protein whey memudahkan penyerapan lebih besar dibandingkan susu sapi atau susu formula.
Menurut Dokter Mulyadi dari Medizone Clinic, komposisi gizi yang ada di ASI sebenarnya tak akan berbeda antara ibu yang satu dengan ibu yang lainnya. Tapi, apa yang dikonsumsi oleh sang ibu memang akan memberi pengaruh, baik ke kualitas gizi maupun rasa ASI itu sendiri.
Makanya, ibu yang tengah menyusui sangat disarankan untuk menjaga pola makannya. Artinya, jangan sampai kurang dan harus bergizi. Selain itu, makanan dengan citarasa yang kuat seperti asam atau pedas juga sebaiknya dihindarkan dulu.
Karena, makanan jenis itu akan membuat rasa ASI tidak enak untuk bayi. Meminum banyak air putih dan susu bagi ibu menyusui juga sangat dianjurkan. Selain demi menjaga asiupan ASI terhadap bayi, makanan jenis itu sangat berguna untuk menjaga kesehatan sang ibu sendiri.
Kompas.com (Epung Saepudin, M.D. Novita)
1.20.2009
Aku Jadi Ayah...!!
Alhamdulillah.... Akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang juga. Anak kami yang pertama lahir setelah menunggu selama hampir dua tahun. AKU JADI AYAH....!!!!
Hari kamis, 15 Januari 2009, pukul 19.10, di Ibu bidan Emuy Muyinah, Jalan siliwangi, Ona, Rangkasbitung, Banten. Alhamdulillah lahir normal dengan selamat tanpa kurang suatu apa.
Anak pertama kami tersebut berjenis kelamin perempuan. Cantik lho... :D campuran Bundanya yang cantik dan Neneknya yang sipit. Kami (saya dan Istri) sepakat memberikan dia sebuah nama: WAFDA ZAFIRA yang artinya: Delegasi Wanita Yang Unggul. Kami berharap Dia bisa menjadi Wanita Indonesia yang mampu mengharumkan nama Agama, Orang tua, Negara dan Bangsanya di Dunia Internasional, Amiin....
1.19.2009
Sayangilah Ibumu....Ibumu...Ibumu...
Judul di atas merupakan pengingat bagi saya dan mudah-mudahan bagi temen-temen pengunjung blog saya semua. Betapa tidak, Alhamdulillah hari kamis, 15 Januari 2009 pukul 19.10 merupakan hari bahagia buat keluarga kami terutama saya dan istri saya, karena hadir anggota keluarga baru, anak pertama saya.
Namundibalik semua kebahagiaan itu, kelahiran adalah suatu peristiwa yang sangat besar. Melihat istri saya kesakitan 3 hari 3 malam membuat saya ikut merasakan juga sakitnya. ga malem, ga siang, mules terus-terusan. bahkan waktu makan, waktu tidur...sampai-sampai istri saya tidak bisa tidur ataupun makan selama 2 hari, saya juga jadi ikut ga bisa tidur karena terus mendampinginya.
Sampai hari isatri saya melahirkan, saya terus berada disampingnya. ketika istri saya kesakitan dan mengejan, saya pun merasakan sakitnya. Subhanallah....Begitu besar pengorbanan seorang Ibu untuk anaknya dari mulai hamil sampai melahirkan.
Lalu, bagaimana sikap kita selama ini kepada Ibu kita?? adakah bakti dan pengorbanan kita untuk beliau?? Karena jasa Ibu tidak akan pernah bisa terbalas.....
Ibu....Maafkan segala kesalahan dan sikap saya yang sangat banyak hal jelak selama ini
1.10.2009
Tulang leherku....
Tanggal 3 Januari lalu, yang harusnya saya masih merayakan tahun baru, tapi hari itu saya harus ke dokter. untung dokternya juga ga liburan tahun baru ya... (itulah orang indonesia, udah harus ke dokter masih untung juga karena dokternya ada....). Hampir setahun ada rasa "nyut" dibagian belakang leher saya. Saya pikir cuman sakit kepala biasa, makanya saya ga terlalu peduli, tapi karena rasanya semakin sering rasanya muncul, akhirnya saya periksalah ke dokter penyakit dalam. Hasilnya dokter itu bilang saya musti di Rontgen bagian "Cervical"-nya.
Hari itu juga saya langsung menuju ruang rontgen. Saya di"foto" 2 kali (tapi ga bisa bergaya... :D padahalkan bisa buat dipasang diblog ya.... :p ). Truz saya disuruh tunggu sebentar buat liat hasil rontgennya (Langsung jadi ya...kaya foto box... :D). Saya liat hasil dari kejauhan (kaya bahasa novel deh...) rontgennya udah jadi, Nah....saya penasaran, dag-dig-dug-DUERR!!!!! kira-kira kenapa ya leher saya...? Eh....tiba-tiba dari dalem keluar sorang petugasnya (katanya), dia bilang hasilnya baru bisa diambil hari senin tanggal 5 Januari jam 11. Nah lho.... Padahal saya hari senin harus ke dokter lagi sambil bawa hasil rontgen itu...
Ya...terpaksa di iyain deh daripada benjol....
Satu hari berlalu.....tibalah hari senin itu (cie....kayanya saya harus bikin novel neeh... :D). Hari itu saya ke kantor pajak dulu ambil NPWP. Apa itu NPWP? ada yang tau anak-anak....?ntar dikasih permen.... Iya bener! Orang bijak taat pajak katanya...(itu mah OBTP bukan NPWP...)
Beres dari kantor pajak, saya langsung meluncur ke rumah sakit umum (biar agak murah... :D). MasyaAllah...ga taunya hari itu rumah sakit penuh sesak, seperti orang lagi antri sembako atao antri minyak tanah kali ye....malah mungkin kayak antrinya orang yang pembagian zakat di pasuruan itu (terlalu hiperbola ya...). Ya mau gimana lagi, antrilah saya mendaftar untuk ke dokter syaraf (lho...ko kedokter syaraf? tadi katanya ke dokter penyakit dalam...?) begini, tadi saya belom cerita, si dokter penyakit dalam bilang setelah hasil rontgen ada, saya langsung ke dokter syaraf, begitu katanya....
Okeh lanjut. Setelah sekian lama antri, akhirnya nama saya disebut. dengan senang karena bisa keluar dari kerumunan itu saya lalu mencari poliklinik syaraf. muter-muter ga ketemu tuh poli syaraf. akhirnya bertanyalah saya pada bapak satpam yang berkumis tipis.
"Pak...pak...apakah bapak tau poli syaraf?" (harus menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar... :D)
Ya pasti dia tau, karena dia satpam rumah sakit, kalo dia satpam carrefour pasti ga tau, kecuali dia pernah berobat ke dokter syaraf juga... :D.
Ya balik lagi ke ceritanya ya...
Singkat cerita ketemulah poli syaraf itu. Tapi sebelumnya saya ambil hasil rontgen dulu. Saya liat hasilnya, ada yang dibuletin digambarnya (liat gambar dibawah ini)
Nah....lho...knapa ya...?ada juga lampirannya kertas tulisan dokter. tulisan dokternya ga kebaca. Knapa ya tulisan dokter ko jelek banget? Dokter sengaja kali ya supaya kita ga bisa ngerti.
Waktu nunggu giliran, saya liat yang dateng ko rata-rata orang udah tua ya... (namanya juga dokter syaraf...) Setelah menunggu cukup lama, akhirnya giliran saya masuk. Dokter tanya, knapa?? Saya langsung kasih dokter itu hasil rontgennya....
Dokter itu seperti terkejut. Waduh knapa dok? ko jadi melongo?
Dokternya rodho kaghet karena melihat yang dibuletin itu. Penasan kan jadinya saya...Lho ada yang salah dok dengan leher saya? Dia lalu menunjuk hasil rontgen yang dibuletin itu. Dia bilang ada pertumbuhan tulang ditulang leher saya itu. ada jarak antara tulang (lihat gambar) sebagai tempat keluarnya syaraf-syaraf. Nah pada kasus saya, tulangnya agak lebih panjang, sehingga menyentuh syaraf. pas kesentuh itulah rasa "Nyut" itu timbul. Biasanya kalaupun ada kasus seperti itu, tang tumbuh tulang leher bagian depan yang bukan tempat keluar syaraf.
Waduh dok yang bener aja....truz gimana donk?? saya mulai panik sendiri. Kalo terus panjang gimana? kalo nutupin jalan syarafnya gimana? wah...pokoknya saya panik aja waktu itu...
Untung dokternya ga ikut panik juga...(ngapain juga dia panik, yang sakit juga bukan dia....) Dia bilang, kita berdoa supaya tulang itu tidak terus tumbuh...soalnya kalo tambah panjang repot urusannya soalnya itu leher bagian belakang yang banyak syaraf-sayarafnya... Ya Allah.....Engkaulah pemilik diri-diri kami.....Engkau yang berkuasa atas hal yang tak mungkin bagi kami, dan Engkaulah yang maha kuasa menyembuhkan karena Engkaulah pemilik segalanya.........
Temen-temen tolong bantu doa juga ya...mudah-mudahan tulang leher saya yang itu ga tambah panjang.
Lalu pertanyaan saya apa ya yang menyebabkan itu terjadi? dokter itu cuma bilang ada hal-hal yang merangsang pembentukan tulang itu diantaranya: Beban dikepala seperti helm yang terlalu berat, menggerakkan kepala sampe bunyi "krek" (kaya waktu dipijit abis dicukur). Dokter ga bilang apa awal mula yang menyebabkan itu tumbuh. Ya WallahuA'lam. Yang penting sekarang jangan melakukan hal-hal yang menambah beban dikepala itu supaya tulangnya ga tambah.
Mungkin temen-temen kalo ada yang tau apa namanya dan penyebabnya kasus yang sedang saya alami atau punya kenalan dokter?tolong saya ya....saya pengen tau apa nama tu penyakit, truz penyebab awalnya apa? truz tindakannya kaya gimana? Trimakasih sebelum dan sesudahnya
1.09.2009
Evolusi Darwin 150 Tahun Kemudian
Oleh NINOK LEKSONO
Seorang amatir (dari zaman) Victorian mengabdikan diri untuk pengamatan yang pelan dan saksama dan berpikir tentang jagat alam sepanjang hidup, lalu mencetuskan satu teori 150 tahun silam, yang masih menggerakkan agenda ilmiah dewasa ini.”
Gary Stix, ”Scientific American”, 12/2008
Membaca jurnal sains Cosmos (Desember 2008/Januari 2009), yang secara khusus mengupas masalah evolusi, pembaca diajak menjelajahi seluk-beluk evolusi - bagaimana riwayat kelahiran teori yang terus menggerakkan debat ilmiah hingga hari ini, bukti-bukti evolusi, dan juga pandangan mutakhir yang menyebut evolusi tampaknya telah berakhir.
Selain Cosmos, jurnal lain yang mengupas evolusi secara mendalam, juga warisan ilmiah yang ditinggalkan Charles Darwin, adalah Scientific American (Desember 2008), yang intronya dikutip di bagian awal tulisan ini. Keduanya mengangkat Darwin dan evolusi bertepatan dengan peringatan 200 tahun Darwin dan 150 tahun teori evolusi yang ia kemukakan.
Orang kini menyebut teori evolusi secara begitu saja, tetapi tak disangsikan lagi, inilah teori yang mengalami ujian paling dahsyat sepanjang masa. Atas dasar itu pula, orang melihat Darwin sebagai salah satu sosok yang menjulang di dunia sains, yang idenya telah mengubah dunia.
Kini teori evolusi sudah bertahan 150 tahun, dan pada sisi lain teori itu telah bertambah luas seiring dengan berkombinasinya ide yang dicetuskan Darwin dan genetika.
Darwin berangkat untuk pelayaran ke Kepulauan Galapagos tahun 1835 dengan kapal HMS Beagle. Kepulauan yang masuk dalam wilayah Ekuador ini terletak 1.000 kilometer dari Amerika Selatan. Lokasi yang dianggap sebagai ”museum hidup dan lemari pajangan evolusi” ini telah dinyatakan sebagai pusaka dunia oleh UNESCO. Wilayah yang terisolasi secara ekstrem ini—dan ditandai oleh aktivitas seismik dan vulkanik - menyimpan kehidupan yang unik. Antara lain iguana darat, kura-kura raksasa, dan sejenis burung gelatik (finch) yang menjadi subyek pengamatan Darwin.
Meski dikelompokkan sebagai burung yang sama, atas bantuan ahli burung dan seniman John Gould, berikutnya diketahui bahwa finch yang dibawa Darwin sebenarnya merupakan spesies yang berlainan.
Dari pekerjaan Gould, Darwin mengerti bahwa ukuran paruh finch berubah generasi demi generasi sesuai dengan ukuran biji-bijian atau serangga yang mereka makan di pulau-pulau - di Galapagos ada 19 pulau - yang berlainan.
Apa yang ia amati itu ia catat dalam ”The Voyage of The Beagle” yang diterbitkan setelah Darwin kembali ke Inggris tahun 1839. Darwin 22 tahun kemudian menerjemahkan pemahamannya atas adaptasi finch tersebut ke dalam satu teori evolusi. Teori ini menegaskan adanya seleksi alam untuk memastikan bahwa ada sifat-sifat lebih unggul yang bertahan dari generasi ke generasi.
Fitur inti Teori Darwin - seperti telah disinggung di muka - telah bertahan dari kajian kritis dari kritikus ilmiah dan religius.
Sisi lain Teori Darwin
Pada satu hari di bulan Juni 150 tahun silam, di rumahnya di dekat London, Darwin membuka amplop surat yang dikirim dari satu pulau yang kini ada di Indonesia. Pengirim surat itu adalah Alfred Russel Wallace, kenalan muda yang menambah penghasilan dengan menjadi kolektor biologi, yang rajin mengirim kupu-kupu, burung, dan spesimen lain ke Inggris. Namun, kali itu, Wallace mengirim serta manuskrip 20 halaman, sambil meminta Darwin memperlihatkannya kepada anggota lain komunitas ilmiah Inggris.
Darwin membaca manuskrip tersebut dengan horor karena Wallace juga sampai pada teori evolusi seperti yang dikerjakannya, tanpa menerbitkan satu kata pun, selama dua dekade terakhir. Darwin dilanda kebimbangan hebat, dan sempat terpikir olehnya untuk memusnahkan karyanya sendiri.
Pemikiran evolusi Darwin acap disebut sebagai ”Darwinisme”, yang juga melambangkan pandangan sekitar evolusi. Namun, seperti dicatat Richard Conniff di Cosmos, awal mula pandangan ini bukan dari Darwin atau Wallace. Pandangan tentang asal-usul manusia dari primata, misalnya, sudah muncul sejak 1699, ketika seorang dokter asal London, Edward Tyson, membedah simpanse dan mendapati anatomi makhluk ini amat mirip dengan manusia.
Kakek Darwin sendiri, Erasmus Darwin, di tahun 1770-an sudah menyatakan bahwa berbagai spesies yang berbeda-beda berkembang dari satu leluhur yang sama. Ia bahkan memasang moto Latin ”E conchis omnia” (Segalanya berasal dari kerang) di kereta kudanya.
Bisa pula dicatat bahwa pada tahun 1801 naturalis Perancis, Jean-Baptiste Lamarck, mengajukan bahwa spesies-spesies bisa berubah merespons kondisi lingkungan. (Ada yang bisa bertahan dari penyakit, kelaparan, pemangsaan, dan faktor lain, tapi ada juga yang tak bisa bertahan, oleh Darwin disebut dengan ”seleksi alam”, sementara oleh Wallace disebut sebagai ”perjuangan untuk eksistensi”).
Tahun 1840-an, ide evolusi lolos dari ranah komunitas ilmiah semata, dan merebak menjadi debat publik. Sementara itu, Darwin terus mengembangkan studinya tentang evolusi, antara lain dengan mempelajari karya demograf TR Malthus mengenai faktor yang membatasi perkembangan manusia. Tahun 1844, ia telah mengembangkan ide dalam manuskrip setebal 200 halaman.
Seperti kita tahu, naskah Darwin yang lengkap akhirnya terbit 24 November 1859 dalam wujud buku berjudul On the Origin of Species by Means of Natural Selection. Dengan itu, hal yang tak terpikirkan, yakni manusia berasal dari satwa, menjadi lebih dari ”terpikirkan”.
Dalam hal ini Darwin tak saja menyuplai unsur ”bagaimana” dari evolusi. Karyanya yang mendalam atas kijing dan spesies lain membuat ide evolusi lebih bisa dicerna.
Pemikiran baru
Dari uraian tersebut, kesan yang muncul memang teori evolusi Darwin telah lulus dari ujian waktu. Namun, pada sisi lain, kini juga muncul pandangan baru bahwa evolusi sendiri kini telah berakhir, setidaknya bagi manusia. Inilah yang juga dilaporkan oleh Steve Jones di Cosmos. Umat manusia, tulis Jones, kini mengalami apa yang ia sebut sebagai ”pemerataan besar” (grand-averaging).
Sekadar contoh, warga Amerika-Afrikan kini sudah merasa, sejarah mereka telah tercuri. Kromosom mereka sebagian Afrika, sebagian Eropa, dan sebagian lain Asia. Gejala percampuran gen, lalu pemerataan, kini berlangsung lebih deras dibanding tahun 1950. Tiga faktor yang dibutuhkan untuk terjadinya evolusi - variasi di antara orang, tekanan seleksi via perbedaan dalam tingkat kematian, dan jumlah keturunan dan isolasi geografik - banyak yang telah lenyap. Bagi manusia, daya evolusi tampaknya kini telah punah.
Kompas.com
1.07.2009
Met Taon Barou....!!!!!
MET TAON BAROU YE....!!
Semoga ditaon ni ada banyak harapan yang bakal tercapai dan yang pasti lebih baik dari taon nyang kemaren....
Jember....
Bulan desember lalu, sekitar satu bulan saya berada di kota Jember. Kota kecil yang lumayan lengkap. Bank-bank besar ada, Carrefour juga ada. mau ke kota ga begitu jauh, cukup naek angkot bayar 3000 perak.
Daerah yang saya tinggali bernama Muktisari. tepatnya di Jl. Basuki Rahmat, disamping SMA 3 Jember, katanya seh SMAnya Dewi Persik....
Daerahnya cukup nyaman, tapi saya agak ga kuat sama panasnya yang menyengat. Baru 2 hari kulit saya udah berubah warna. Bulan lalu mungkin karena sudah masuk musim hujan, tiap hari hujan, ga pagi, ga siang, ga malem. kadang lebat, kadang hujan ringan tapi lama, bikin males mau kmana-mana.
Oiya soal angkot, saya mau tanya sama yang tau, mungkin ada orang Jember, disana angkot disebut "LIN". Apa ya maksudnya "LIN"? apakah Lintasan? tapi orang disana bilangnya "kalo mau ke kampus naek LIN D aja....".
ada juga orang didalem angkot disamping saya nerima telepon, dia bilang: "saya masih di "LIN"...
Jadi "LIN" itu nama lain "angkot" atau nomor/jurusan angkot ya...?
12.31.2008
Jangan Salahkah Anak kalau Konsumtif
MEMBELI barang yang diperlukan anak, sah-sah saja. Namun, kalau orangtua lantas menuruti kemauan anak untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan, tentu saja tidak baik. Ini sama artinya mengajarkan pola hidup konsumtif kepada mereka.
Aspek sosial menjadi bagian dari perkembangan balita. Bertemu dan berhubungan dengan orang lain di luar rumah merupakan pembelajaran atas hubungan interpersonal. Begitu pula saat anak mulai masuk sekolah dan bertemu dengan teman baru, kemampuan interaksinya pun ikut berkembang.
Interaksi dengan teman baru membawa banyak pengaruh. Salah satunya adalah pengaruh atas benda yang digunakan oleh sang teman. Anak lantas menginginkan barang tersebut. Katakanlah tas sekolah model Barbie atau tempat minum dengan gambar Winnie the Pooh. “Wabah” beyblade (dulu kita menyebutnya gasing) atau crush gear (mobil-mobilan) juga bisa diambil sebagai contoh.
Keadaan ini bisa terjadi pada anak. Sebab, saat di rumah, orangtua tidak mempunyai benda seperti itu. Di situlah kemampuan interpersonal anak dengan orang lain dimulai.
“Tapi, saya tidak melihat bahwa sifat konsumtif benar-benar dimulai dalam diri anak. Sebetulnya lebih ke sifat ingin memiliki sesuatu yang sama dengan temannya agar bisa menjadi bagian dari mereka,” papar Dra Rose Mini Adi Prianto, MPsi, psikolog dari Fakultas Psikologi UI.
Perlu siasat
Hal itulah yang kemudian membuat anak meminta ini-itu. Pada tahap ini, anak memang sedang menikmati hubungan interpersonalnya. Barang atau benda yang diminta kadang-kadang digunakan sebagai agen untuk bisa berhubungan dengan orang lain.
Kalau kemudian orangtua tidak memberi penjelasan atau pengertian kepada anak tentang kepentingan barang-barang tersebut, itu yang tidak tepat. Sebab, anak juga tidak harus selalu mendapatkan barang yang diinginkan, terutama bila harganya cukup mahal.
Orangtua sebenarnya bisa menyiasati dengan mencari alternatif lain. Saat anak Romi, panggilan akrab Rose Mini, duduk di bangku TK (sekarang sudah kuliah semester pertama) sudah diperkenalkan dengan perilaku tidak konsumtif.
Kala teman-temannya menggunakan beraneka ragam tas, Romi membuat tas dari kain sebagai peranti untuk membawa bekal makanannya. “Orangtua harus pintar menanamkan hal-hal seperti itu. Bagi anak, sesuatu yang paling bagus adalah yang bisa membuatnya bahagia. Dan tas itu membuat anak saya bahagia dan bangga,” kenang Romi.
Perilaku konsumtif pada anak lebih karena faktor lingkungan. Anak tidak bisa mengembangkan sikap bahwa apa yang dimilikinya juga menarik. Padahal, sikap tersebut akan membuat anak lebih menghargai apa yang dimilikinya. Bahkan, ia juga bisa menjadi trendsetter di kalangan teman-temannya. Tas buatan Romi kemudian malah ditiru oleh teman-teman anaknya.
Menempatkan sesuatu sesuai dengan manfaat maupun fungsinya akan membuat anak mengerti. “Ajarkan anak untuk mengenal benda yang diinginkan berdasarkan fungsinya,” kata psikolog yang pernah menjadi mentor saat Akademi Fantasi Indosiar berlangsung.
Jelaskan manfaatnya
Romi lantas mencontohkan tas sekolah dengan model seperti koper. “Karena kurikulum kita seluas samudera, akhirnya anak membawa tas koper untuk bisa membawa buku pelajaran,” ujarnya. Aneka ragam model tas koper pun ditawarkan. Akibatnya, anak tidak melihat tas sebagai fungsi, melainkan modelnya.
Mereka saling memamerkan tas. Roda tas yang lebih besar dianggap lebih menarik. Padahal, semakin besar roda, akan semakin sulit bagi anak untuk membawa tas tersebut naik tangga. Hal inilah yang harus dijelaskan kepada anak.
Penjelasan yang diberikan pun harus dengan pola pikir yang sederhana.
Menjelaskan kepada anak memang harus mengena. Orangtua tidak semata-mata bilang “tidak” untuk menahan anak agar tidak membeli tas seperti yang dimaksud. Begitu juga kalau dikatakan bahwa tas seperti itu tidak ada manfaatnya.
Hal tersebut tidak bisa masuk dalam pola pikir anak. Kalau tas tersebut tidak boleh beli dan tidak ada manfaatnya, kenapa dijual? “Orangtua harus berbicara apa adanya kepada anak. Katakan kenapa orangtua tidak setuju untuk membelinya. Anak pasti mengerti,” lanjutnya.
Tidak benar, menurut Romi, anggapan bahwa anak tidak akan mengerti bila diajak berkomunikasi. Sebaliknya, orangtualah yang selalu membuat anak tidak mengerti. Padahal, jika orangtua berbicara sesuai dengan kapasitas kemampuan, lewat penjabaran yang lebih sederhana, anak pasti mengerti.
Jangan mendua
Perilaku konsumtif juga bisa terlihat dari kebiasaan anak membeli barang secara terus-menerus. Walaupun sudah bertumpuk di rumah, anak tetap merengek minta mainan saat berjalan-jalan di pertokoan.
Mungkin, jika dilihat dari harga, mainan yang diminta cukup murah. Namun, menjadi tidak baik bagi anak kalau orangtua membelikannya terus-menerus karena faktor murah tadi. “Ini juga konsumtif,” kata pengajar di Program Pascasarjana Fakultas Psikologi UI.
Bila seperti itu keadaannya, orangtua juga harus membuat perencanaan. Anak perlu diberi pengertian membeli mainan cukup satu bulan sekali. Hal ini akan membuat mereka belajar untuk tidak konsumtif.
Sayang, orangtua terkadang tidak konsisten dengan apa yang dikatakan. Ada yang tidak membolehkan membeli mainan saat harganya masih mahal. Namun, begitu harganya turun, mereka memperbolehkan anak membelinya. Berarti, orangtua bersikap mendua. Sikap ini tidak baik bagi orangtua maupun anak. Sebab, anak akan merasa orangtua pasti akan membelikan barang tersebut.
Dimulai dari orangtua
Kebiasaan minta dibelikan mainan atau sesuatu secara terus-menerus bukan semata-mata disebabkan oleh si anak. Dra Rose Mini Adi Prianto, MPsi, staf pengajar Program Pascasarjana Fakultas Psikologi UI, tidak percaya hal itu. “Saya lebih percaya bahwa tindakan anak yang seperti itu karena ada perlakuan dari orangtuanya,” tutur Romi, panggilan akrabnya.
Rasa bersalah karena orangtua bekerja dan meninggalkan anak di rumah dalam waktu lama kerap menjadi alasan. Itu sebabnya, saat pergi bersama anak ke pusat perbelanjaan, dengan ringan orangtua akan membelikan sesuatu yang diinginkannya.
Benarkah anak pasti senang dengan barang yang dibeli tersebut? “Mungkin hanya sebentar saja,” ujarnya. Justru yang disenangi adalah momen saat itu, saat pergi bersama ayah dan ibunya.
Kalau sudah begitu, orangtua jangan terlalu asyik dengan dirinya sendiri atau asyik melihat barang-barang. Berikan kondisi yang membuat anak bahagia dengan kehadiran Anda sebagai orangtua. Kondisi ini akan memberi nilai plus. Nilainya jauh lebih banyak dibandingkan dengan hanya membelikan barang yang dimintanya.
Oleh karena itu, yang harus dilakukan adalah mengubah paradigma berpikir orangtua, terutama saat akan pergi jalan-jalan. Anak yang terbiasa pergi ke mal atau pusat perbelanjaan dan merengek minta dibelikan sesuatu, tidak bisa diberi pengertian pada saat kejadian, tetapi jauh sebelum itu.
Sebelum bepergian, orangtua harus berbicara terlebih dahulu kepada anak. Anak harus diberi kondisi: apa yang diinginkan anak pada bulan itu? Beri pengertian bahwa anak hanya bisa membeli barang satu kali dalam sebulan dengan skala prioritas. Dengan begitu, anak diajak untuk berpikir. Patron dalam pikirannya sudah jelas. Jadi, saat merengek, anak diingatkan kembali akan janji yang sudah dibicarakan sebelumnya.
Saat akan pergi, biasakan untuk berbicara terlebih dahulu dengan anak. Katakan bahwa pada saat itu Anda hanya ingin membeli sayuran dan buah. Untuk itu Anda harus konsisten. “Jangan kemudian Anda membeli bedak, baju, dan sepatu. Itu tidak konsisten namanya. Sebab, nanti anak akan berpikir, ‘Lho kok ibu boleh beli, aku enggak?’” kata Romi.
Yang penting, orangtua tetap membeli sesuai dengan apa yang dikatakan. Kalaupun anak ingin wortel atau apel, Anda bisa mengizinkan karena itu bagian dari sayur dan buah. Namun, jika anak ingin es krim, Anda bisa menolak. Meski terlihat ekstrem, hal tersebut akan membuat anak mengerti. Anak akan lebih paham bahwa berbelanja tidak bisa ngaco!
Selain berbelanja, orangtua juga hendaknya tidak berperilaku konsumtif di rumah. Jangan sampai ayah maupun ibu mempunyai sepatu lebih dari 20 pasang. Sebab, hal tersebut akan membuat anak tidak merasa ragu untuk memohon dibelikan sepatu juga, meski jumlahnya sudah lebih dari selusin.
Memberi alasan dengan benar saat akan membeli barang juga bisa membuat anak mengerti. Misalnya, orangtua harus membeli sepatu lagi karena yang lama sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Contoh lain, menggunakan kertas bekas. Bagian belakangnya masih bisa digunakan corat-coret anak. Dari situ anak akan terbiasa memakai barang yang bisa didaur ulang atau berhemat.
Hal-hal seperti itu bisa diajarkan di rumah. Anak akan melihat yang dikerjakan sehari-hari oleh orangtuanya. Apalagi, saat anak berusia 0-5 tahun, segala hal yang terjadi di rumah akan mudah diserap. Pada masa itu anak akan mengumpulkan berbagai pengalaman.
Kalau orangtua bertindak konsumtif, bukan tidak mungkin anak akan menyerap dan mengingat pengalaman tersebut. Dengan kata lain, rumah juga menjadi tempat untuk membiasakan anak agar tidak bertindak konsumtif.
Diana Yunita Sari – kompas.com