LATAR BELAKANG
Berdasarkan rekomendasi FAO (Food and Agriculture Organization), untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia, konsumsi buah-buahan yang dianjurkan adalah 60 kg/kapita/tahun. Menurut data SUSENAS pada tahun 2005 konsumsi buah-buahan di Indonesia masih kurang dari 32 kg/kapita/tahun. Berdasarkan fakta tersebut, di tahun-tahun mendatang permintaan buah-buahan Indonesia masih terus meningkat, seriring perbaikan kesejahteraan masyarakat.
Beberapa jenis buah konsumsinya meningkat dari tahun ke tahun antara lain jeruk, semangka, duku, dan durian. Di sisi lain ada pula beberapa jenis buah yang tingkat konsumsinya cenderung menurun seperti pisang, pepaya, dan nanas. Buah-buahan yang konsumsinya cenderung meningkat ini adalah buah yang tinggi volume impornya seperti jeruk dan durian. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa telah terjadi pergeseran preferensi konsumen dari buah nasional ke buah impor. Beberapa alasan konsumen untuk mengkonsumsi buah impor yang utama adalah rasanya yang dianggap lebih memenuhi selera konsumen. Selain itu juga karena faktor harga yang bersaing dengan buah nasional, sementara penampilannya dianggap lebih baik.
Target pasar buah impor pada awalnya adalah golongan berpendapatan menengah ke atas melalui supermarket dan gerai khusus buah, namun faktanya sekarang sudah masuk ke gerai pasar tradisional. Para importir buah-buahan sub-tropik umumnya pemodal kuat, sehingga mereka mempunyai fasilitas gudang penyimpanan yang berpendingin. Kondisi ini juga telah meningkatkan dayasaing buah impor, karena importir dapat mengatur kapan, kemana dan bagaimana cara pemasaran yang paling tepat untuk memperoleh tingkat keuntungan yang optimal. Untuk itu diperlukan upaya secara gencar untuk mempengaruhi konsumen dalam mengalokasikan pendapatannya untuk mengkonsumsi buah lebih banyak ke arah buah nasional. Tentu saja berbagai strategi dan program untuk peningkatan daya saing buah nasional dari sisi suplai tetap perlu dilakukan.
Terdapat beberapa alternatif program promosi untuk mendorong konsumsi buah nasional. Sebagai contoh pemerintah dapat mencarikan kerjasama dengan perusahaan nasional yang loyal dan prihatin akan keterpurukan ekonomi bangsa, sehingga bersedia mengiklankan buah-buahan nasional. Biaya iklan relatif mahal apabila sepenuhnya harus dibayar swasta. Karena itu harus dibantu dari layanan masyarakat pada TV swasta dan TV pemerintah, radio, media cetak, dan billboard di tempat-tempat yang strategis.
Instrumen promosi yang tidak kalah pentingnya adalah yang berkaitan dengan pendidikan konsumen. Seringkali konsumen maish belum tahu jenis-jenis buah nasional yang mempunyai kandungan gizi yang lebih baik daripada buah impor. Sebagai contoh buah manggis mempunyai antioksidan yang tinggi yang di luar negeri digunakan sebagai bahan baku obat cancer. Pisang Raja Bulu yang sudah dilepas oleh Menteri Pertanian mempunyai kandungan beta karoten tinggi, rasanya manis namun glikemiks indeks-nya paling rendah dibandingkan pisang jenis lain. Tentunya masih banyak kelebihan buah nasional dibanding buah impor yang informasinya tidak diketahui oleh masyarakat. Penyebaran informasi Ini dapat dilakukan misalnya melalui pembuatan film pendek yang dikemas dalam CD. Sekaligus pula dapat disebarkan informasi yang dapat membangkitkan kesadaran kosumen akan industri buah nasional yang menyangkut hajat hidup petani, seperti dengan penyebaran tagline “Pastikan setiap rupiah yang Anda keluarkan menguntungkan petani Indonesia”.
SIGNIFIKANSI DAN TUJUAN KEGIATAN
Pengeluaran untuk konsumsi buah yang terus meningkat saat ini mengindikasikan bahwa sumber serat, vitamin dan mineral sudah tidak bertumpu pada sayuran saja. Data di negara maju menunjukan bahwa semakin tinggi pendapatan masyarakat semakin besar porsi dari pendapatan dialokasikan untuk konsumsi buah-buahan, sebagai upaya untuk mewujudkan hidup sehat. Buah dilihat bukan hanya sebagai sumber serat, vitamin dan mineral, akan tetapi kebutuhan karbohidrat dan kebutuhan gula sebagai sumber energi dan antioksidan mereka menyediakannya dari mengkonsumsi buah-buahan.
Upaya promosi melalui pembuatan film dokumenter ini terutama ditujukan untuk para ibu rumahtangga, remaja dan anak2 yang mempunyai akses untuk mengalokasikan anggaran belanjanya bagi kehidupan sehari-hari. Diharapkan mereka akan mengalokasikan anggarannya dengan bijaksana, karena telah diberikan informasi tentang cara hidup sehat dengan mengkonsumsi komoditi yang lebih besar manfaatnya bagi kesehatan tubuh, daripada mengkonsumsi sumber karbohidrat dan lemak secara berlebihan. Makanan siap saji yang semakin murah dan marak diadvertensikan dalam jangka panjang akan mengurangi proporsi sumberdaya yang sehat jasmani, apabila tidak diimbangi dengan informasi tentang altenatif hidup sehat dengan banyak mengkonsumsi buah. Pembuatan film ini akan sangat bermanfaat bagi halayak baik bagi konsumen buah serta bagi para pekebun. Kesadaran akan manfaat mengkonsumsi buah nasional, secara tidak langsung akan meningkatkan permintaan terhadap buah nasional yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani buah.
TEMA KEGIATAN
“Cinta Buah Indonesia”
KETENTUAN LOMBA
Kegiatan Lomba Lomba Pembuatan Film Dokumenter “Cinta Buah Indonesia” dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Peserta lomba adalah mahasiswa berbagai strata di perguruan tinggi dan siswa sekolah menengah.
2. Peserta harus memilih satu atau gabungan alternatif isu berikut:
· Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap buah nasional
· Meningkatkan citra buah nasional di gerai buah, pasar tradisional dan pasar modern
· Mendorong konsumsi rumahtangga terhadap buah nasional
· Teknologi produksi bagi peningkatan kualitas buah nasional
3. Buah harus mencakup minimal salah satu atau gabungan dari buah nenas, pepaya, pisang dan manggis.
4. Durasi film berkisar 15 sampai dengan 20 menit.
5. Film dalam format CD/DVD sudah diterima sekretariat paling lambat tanggal 31 Juli 2009 pukul 12.00 BBWI.
6. Tim juri terdiri atas tiga pihak: Direktorat Budidaya Buah Departemen Pertanian, Pusat Kajian Buah Tropika IPB dan Profesioanl di bidang perfilman.
7. Film dokumenter yang menjadi pemenang I sampai V akan digunakan sebagai bahan diseminasi/promosi non-komersial oleh Departemen Pertanian untuk mendorong industri buah nasional.
8. Peserta tidak dikenakan biaya pendaftaran.
9. Pemenang I sampai V akan memperoleh hadian dan penghargaan sebagai berikut:
· Pemenang I : Uang tunai Rp 5.000.000 + Piala Menteri Pertanian
· Pemenang II : Uang tunai Rp 3.000.000 + Piala Rektor IPB
· Pemenang III : Uang tunai Rp 2.000.000 + Sertifikat
· Pemenang IV : Uang tunai Rp 1.500.000 + Sertifikat
· Pemenang V : Uang tunai Rp 1.000.000 + Sertifikat
10. Pertanyaan dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi Sekretariat Lomba Pembuatan Film Dokumenter “Cinta Buah Indonesia”, dengan alamat Pusat Kajian Buah Tropika Institut Pertanian Bogor, Jl Raya Pajajaran Kampus IPB Baranangsiang Bogor 16144, Telp/Fax (0251) 8326881, email ipbfruit@indo.net.id, website http://pkbt.ipb.ac.id.
7.13.2009
LOMBA FILM DOKUMENTER “CINTA BUAH INDONESIA”
Ngaran-ngaran Usum
Pada bagian kedua “Belajar Bahasa Sunda Yu….” Kali ini membicarakan soal nama musim-musim yang biasa digunakan oleh orang sunda khususnya.
a. Nu patali jeung Kaayaan alam
1. Usum katiga = usum halodo
2. Usum mamareng = usum mimiti rek ngijih
1. usum dangdangrat = usum panyelang antara halodo jeung ngijih
2. Usum ngijih = usum hujan
3. Usum barat = Usum gede angin (nu jolna ti kulon)
4. Usum selatan = usum gede angin nu jolna ti kidul
b. Nu patali jeung kaayaan masyarakat
1. usum pagebug = usum loba nu gering/panyakit
2. usum sasalad = usum loba panyakit bari tepa
3. usum patepok = usum loba kawin
4. usum tigerat = usum kurang dahareun
5. usum paceklik = usum kakurangan pare/dahareun
c. Nu patali jeung kaayaan tatanen
1. Tatanen di sawah
i. Usum nyambut = usum mitembean ngagarap sawah
ii. Usum morekat = usum nyawah leutik
iii. Usum tandur = usum melakeun binih pare di sawah
iv. Usum ngarambet = mangsa patani miceunan jukut nu jaradi diantara tangkal pare
v. Usum celetu = mangsa pare geus mimiti cul cel aya buahan
vi. Usum beukah = mangsa pare geus loba buahna nu barijil
vii. Usum rampak = mangsa pare geus rata/papak beukah
viii. Usum panen = mangsa dibuat, ngala pare
ix. Usum jami = sabada panen
2. Tatanen di Huma
i. Usum nyacar = usum nyacar leuweung pikeun pihumaeun
ii. Usum ngahuru = meuleum kai jeung kakayon nu geus garing benang nyacar
iii. Usum ngaduruk = meresihan sarta ngaduruk kai nu can kabeleuman waktu ngahuru
iv. Usum ngaseuk = melak pare ku cara nyocog-nyocogeun kai meunang nyeukeutan tungtungna
v. Usum ngored/ngoyos = meresihan jukut nu jaradi diantara luwukan pare ku parabot kored
vi. Usum dibuat/ngetem = ngala pare make parabot etem
vii. Usum ngunjal = mawaan pare ti huma ka imah
Babasan jeung Paribasa
Belajar Bahasa Sunda yu…
Berikut ini ada beberapa peribahasa yang menggunakan bahasa sunda. Bagi para sastrawan sunda mohon sarannya.
1. Atah anjang = langka silih anjangan
2. Adigung adiguna = takabur, sombong
3. Ambek nyedek tanaga midek = napsu gede tapi tanaga euwueh
4. Anjing ngagogogan kalong = mikahayang nu lain-lain
5. Adat kakurung ku iga = lampah goreng hese leungitna
6. Alak paul = jauh pisan
7. Aki-aki tujuh mulud = geus kolot pisan
8. Ayem tengtrem = tenang teu aya kasieun
9. Asa teu beungeutan = awahing ku era
10. Anu borok dirorojok = nu titeuleum disimbeuhan = mupuas kanu keur cilaka
11. Amis = hade paroman
12. Aya jurig tumpak kuda = Aya milik nu teu disangka-sangka
13. Aya jalan komo meuntas = aya kahayang aya nu ngajak
14. Awewe dulang tinande = awewe nurutkeun kahayang salaki
15. Amis daging = babarian katerap panyakit
16. Abong letah teu tulangan = sagala dicaritakeun sanajan pikanyeurieun batur
17. Ari umur tunggang gunung, angen-angen pecat sawed = ari umur geus kolot, tapi ari kahayang sia budak ngora
18. Agul kupayung butut = agul ku turunan
19. Aya pikir kadua leutik = aya kahayang
20. Asa ditonjok congcot = ngarasa bungah pisan
21. Adean ku kuda beureum = ginding ku pakean meunang nginjeum
22. Birit aseupan = teu daek cicing
23. Biwir nyiru rombengeun = resep nyaritakeun ruisah atawa kasalahan batur
24. Bengkung ngariung bongkok ngaronyok = sauyunan, ngariung babarengan
25. Beurat birit = hese dititah
26. Bali gusan ngajadi = lemah cai kalahiran
27. Balungbang timur = nuduhkeun hate beresih
28. Bobo sapanon carang sapakan = aya kakurangan
29. Bilatung ninggang dage = bungah pisan
30. Batok bulu eusi madu = ninggang lain pitempateunana
31. Badak cihea = degig
32. Bonteng ngalawan kadu = nu hengker ngalawan nu bedas
33. Babalik pikir = insap
34. Balik pepeh = nu gering teu daek cicing
35. Balik ka temen = asal banyol jadi pasea
36. Buntut kasiran = medit
37. Bodo alewoh = bodo tapi teu daek tatanya
38. Bodo kawas kebo = bodo kacida
39. Beja mah beja = beja ulah waka dipercaya
40. Bancang pakewuh = pikasusaheun
41. Budak ker muejeuhna bilatung dulang = keur meujeuhna beuki dahar
42. Bulu kapaut = kabawa kubatur
43. Balabar kawat = beja nu seumebar
44. Beak dengkak = sagala ikhtiar geus diusahakeun tapi teu hasil bae
45. Batan kapok galah gawok = batan eureun kalah maceuh
46. Buruk-buruk papan jati = hade goreng dulur sorangan
47. Cueut kahareup = tereh maot
48. Deukeut-deukeut anak taleus = deukeut tapi taya nu nyahoeun
49. Disakompetdaunkeun = disamarutkeun
50. Dibejerbeaskeun = dijentrekeun, dieceskeun
51. Dog dog pangewong = acara panambah
52. Dibabuk lalaykeun = dibabuk kenca katuhu
53. Dagang oncom rancatan emas = teu saimbang
54. Dihin pinasti anyar pinanggih = papasten geus ditangtukeun ku gusti Alloh
55. Dug hulu pet nyawa = usaha satekah polah
56. Elmu ajug = bisa mapatahan batur, ari sorangan teu bisa ngamalkeun
57. Gantung denge = masih dedengeun
58. Ginding kekempis = ginding tapi sakuna kosong
59. Gede gunung pananggeuhan = boga andeleun pedah boga dulur beunghar
60. Garomengmengeun = taya kasabaran
61. Galehgeh gado = sagala dicaritakeun
62. Garo singsat = pagawean awewe dina aya ka teu panuju
63. Gurat batu = pageuh kana jangji atawa mawa karep sorangan
64. Goong saba karia = nonjolkeun maneh sangkan kapake ku dunungan
65. Goong nabeuh maneh = ngagulkeun diri sorangan
66. Getas hareupan = gancang napsu
67. Gindi pikir gelang bayah = goreng hate
68. Hampang birit = daekan kana gawe
69. Hamur congcot murah bacot = goreng carek tapi berehan
70. Heuras genggerong = omongana sugal
71. Hade gogog hade tagog = jalma sopan
72. Hutang salaput hulu = hutangna kaditu kadieu
73. Hurung nangtung siang leumpang = nu beunghar pangabogana dipake
74. Hejo tihang = sok pundah pindah gawean
75. Harigu manukeun = dadana nyohcor kahareup
76. Haripeut ku teuteureuyan = gancang kapincut kupangbibita
78. Mandap lanyap = omongana lemes tapi ngahina
79. Halodo sataun lintis ku hujan sapoe = kahaden mang taun-taun leungit kukagorengan sakali
80. Heureut pakeun = kurang kaboga
81. Hampang leungeun = gancang tunggal teunggel
82. Iwak nangtang sujen = ngadeukeutan pibahayaeun
83. Inggis batan maut hinis = paur pisan
84. Jalma atah warah = teu narima didikan sacukupna
85. Jati kasilih kujunti = pribumi kaelehkeun kusemah
86. Jauh-jauh panjang gagang = jauh-jauh teu beubeunangan
87. Kawas anjing tutung buntut = teu daek cicing
88. Kawas anjing kadempet lincar = gogorowokan menta tulung
89. Kawas bueuk meunang mabuk= ngeluk taya tangan pangawasa atawa jempe teu nyarita
90. Kokolot begog = budak pipilueun kana urusan kolot
91. Kurung batok = tara indit-inditan jauh
92. Kawas beusi atah beuleum = beungeutna beureum awaning ambek
93. Kawas nu dipupul bayu = leuleus taya tangan pangawasa
94. Kumaha geletuk batuna, kecebur caina = kumaha brehna
95. Kejot borosot = gampang nyokot kaputusan teu dipikir heula
96. Kabawa ku sakaba-kaba = kabawa ku nu teu puguh
97. Kahieuman bangkong = Jiga beunghar pedah katitipan barang batur
98. Katempuhan buntut maung = batur nu boga dosana urang nu katempuhanana
99. Kawas cai dina daun taleus = taya tapakna
100. Kawas jogjog mondok = teu daek repeh
101. Kelek jalan = deukeut tapi jalana taya nu lempeng
102. Kawas jaer kasaatan = teu daek cicing
103. Kawas gaang katincak = jempe
104. Kawas hayam panyambungan = lumbang limbung teu puguh
105. Kawas kuda leupas tina gedogan= ngarasa bebas
106. Kaciwit kulit kabawa daging = anak nu boga dosana kolot nu kababawa
107. Kandel kulit beungeut = euweuh kaera
108. Kujang dua pangadekna = pagawean nu maksudna dua cabak
109. Kokoro manggih mulud = makmak mekmek
110. Kawas kedok bakal = goreng patut pisan
111. Kaliung kasiput = loba baraya beunghar
112. Kawas kapuk kaibunan = leuleus taya tangan pangawasa
113. Kalapa bijil ti cungap = rusiah dicaritakeun kusorangan
114. Kawas kacang ninggang kajang = nyaritana capetang tur gancang
115. Kawas nyoso malarat rosa = malarat pisan
116. Kulak canggeum = milik nu geus ditangtukeun ku gusti Allah
117. Kembang buruan = budak nu keur resep ulin
118. Kawas leungeun palid = uyap ayap teu daek cicing
119. Kawas lauk asup kana bubu = hese rek kaluar
120. Kawas merak = beuki kana cengek
121. Kawas cucurut kaibunan = goreng patut pisan, kalimis
122. Kacai jadi saleuwi kadarat jadi salebak = sauyunan
123. Leuleus awak = daekan
124. Leuleus jeujeur liat tali = gede tinimbangan
125. Laer gado = kabitaan
126. Leutik-leutik ngagalatik = awakna leutik tapi gede kawani
127. Landung kandungan laer aisan = gede tinimbangan
128. Lalaki langit lalanang jagat = gagah perkasa
129. Lauk buruk milu mijah = marok-marokan maneh
130. Lesang kuras = teu bisa nyekel duit
131. Leumpeuh yuni = teu kuat nenjo nu cilaka
132. Lodong kososng ngelentrung = jalma loba ngomong pangartina kosong
133. Loba luang jeung dulang = loba pangaweruhna
134. Leutik ringkang gede dulang = manusa awakna leutik jiwana gede
135. Legok tapak genteng kadek = loba pangalaman
136. Meungpeun carang ku ayakan= api-api teu nyaho tapi nyaho
137. Murag bulu bitis = teu betah cicing di imah
138. Mindingan beungeut ku saweuy = ngarusiahkeun hiji perkara padahal batur geus nyahoeun
139. Miyuni kembang = loba nu mikaresep
140. Miyuni tai = loba nu mikangewa
141. Miyuni kohkol = nasibna diteungeulan bae batur
142. Monyet dibere sesengked = nu rek jahat dibere parabot
143. Mipit teu amit, ngala teu menta = cocorokot kana barang batur
144. Monyet ngagugulung kalapa = boga elmu teu nyaho maksudna
145. Mopo memeh nanggung = ngarasa hoream memeh digawe
146. Maut nyere kacongona = sangsara kakolotnakeun
147. Malengpeng pakel ku munding = migawe nu moal hasil
148. Nu asih dipulung seungit = kahadean dibales kahadean
149. Nete taraje nincak hambalan = tertib mapay ti handap
150. Nyeri beuheung sosonggeteun= ngalieukan nu rek datang
151. Ngajul bentang ku asiwung = pagawean nu moal aya hasilna
152. Ngabuntut bangkong = teu puguh tuluyna
153. Nyolong bade = bangun bageur tapi jahat
154. Nyeungeut damar disuhunan = barang bere hayang kapuji
155. Nyaah dulang = kabudak ngurus daharna wungkul,pendidikana teu dipirosea
156. Ngeplak jawer = taya wawanen
157. Ngadaun ngora = jadi rame
158. Nyoo gado = ngunghak
159. Nyalindung ka gelung = nu teu boga kawin ka awewe nu beunghar
160. Ngadu geulis = paalus-alus
161. Ngarep-ngarep kalangkang heulang = ngarep-ngarep rejeki bari teu usaha
162. Neundeun piheuleut = ngajak goreng
163. Ninggang kana kekecrek = nya goreng rupa nya goreng lampah
164. Ngalungkeun kuya ka leuwi = nitah balik ka lemburna
165. Ngawur kasintu nyieuhkeun hayam = ari kabatur bageur ari kadulur medit
166. Ngaboretekeun liang tai di pasar = nembongkeun wiwirang sorangan
167. Ngadeupaan lincar = api-api ngaliwat hayang diaku ngare-ngarep pamere
168. Nyiduh ka langit = sahandapeun mapatahan ka saluhureun
169. Ngeupeul ngahuapan maneh = ngaluskeun hiji perkara pikeun kauntungan pribadi
170. Nangkeup mawa eunyeuh = ditulungan akhirna nyilakakeun nunulungan
171. Ngadek saclekna nilas saplasna = nyarita sajalantrahna
172. Nyieun pucuk ti girang = miheulaan nyieun pipaseaeun
173. Ngageuingkeun macan turu = ngahudangkeun piambeukeun batur
174. Nulak cangkeng dina kelek = ngarasa luhur diri
175. Oray nyampeurkeun paneunggeul = nyampeurkeun pibahayaeun
176. Paanteur-anteur julang = silih anteurkeun
177. Panjang leungeun = daek puak paok
178. Panjang lengkah = jauh panyabaanana loba pangalamanana
179. Pindah pileumpangeun = robah adat
180. Paeh teu hos hirup teu neut = gering ngalanglayung
181. Pacikrak ngalawan merak = jalma hina ngalawan nu mulya
182. Piit ngeundeuk-ngeundeuk pasir = jalma lemah ngalawan nu kuat
183. Pupulur memeh mantun = menta buruhan memeh gawe
184. Puraga tamba kadenda = digawe tamba lumayan
185. Pagiri-giri calik pagirang-girang tampian = pakia-kia teu daek sauyunan
186. Rea ketan rea keton = taya kakurang
187. Silih jenggut jeung nu dugul = silih tulungan jeung nu teu boga
188. Saciduh metu saucap nyata = sakti ucapanana tara nyalahan
189. Sisit kadal = goreng milik
190. Sibanyo laleur = ngan saliwat geus beak deui
191. Saur manuk = ngajawab bareng
192. Sieun meubeut meulit = sieun kabawa
193. Teu gedag bulu salambar = taya kasieun
194. Titip diri sangsang badan = mihapekeun maneh
195. Teu beunang dikoet ku keked = medit pisan
196. Ti kikirik nepi ka jadi anjing = ti bubudak nepi ka sawawa
197. Ti ngongkoak nepi ka ngeungkueuk = ti ngora nepi ka kolot
198. Teng manuk teng anak merak kukuncungan = kalakuan kolot nurun ka anakna
199. Tuturut munding = sagala rupa nurutken batur
200. Wawuh munding = wawuh ngan saliwat
5.31.2009
Bagaimana Mencegah Hepatitis B
Virus Hepatitis B sangat mudah menyebar ke tubuh seseorang. Tapi dengan pencegahan secara dini, virus ini bisa dihindari. Bagaimana caranya?
Dr Poernomo Boedi Setiawan, mengungkapkan, bayi yang baru lahir atau orang yang berpotensi lebih besar tertular bisa meningkatkan antibodi dengan menyuntik imunisasi pasif dalam tubuhnya.
Hal itu bisa dilakukan kapan pun, segera setelah bayi lahir dari kandungan ibu, atau setelah melakukan kontak dengan pengidap hepatitis B positif.
Imunisasi pasif, dia menambahkan, akan bertahan dalam tubuh dan membentuk antibodi serta meningkatkan imun tubuh. Zat tersebut sangat berguna melawan virus hepatitis B karena virus hepatitis B akan mengganas dan menimbulkan penyakit hati saat respon imun dalam tubuh rendah.
"Bayi dan anak-anak sangat penting karena respon imun mereka masih rendah, berbeda dengan kaum dewasa," jelasnya.
Dr Poernomo mengatakan, virus hepatitis B pada bayi baru akan terdeteksi saat berusia 40-50 tahun, sehingga banyak pengidap hepatitis B yang meninggal pada usia tersebut. Kondisi itu sering menimbulkan persepsi, penyakit hati baru ada pada usia lanjut. Padahal, prosesnya sudah berlangsung sejak lahir.
Karena itulah, Anda perlu mendeteksi penyakit hepatitis B sejak dini sebelum muncul keluhan pada hati Anda.
Selain imunisasi aktif, Dr Poernomo menyarankan, pada usia produktif sebaiknya rutin mengecek darah minimal enam bulan sekali. Jika perlu, ultranografi dan imunisasi aktif untuk membentuk zat antibodi dalam tubuh Anda.
VIVAnews.com
Mengenal Ciri Penderita Hepatitis B
Penasaran dengan gejala orang yang mengidap hepatitis B? Biar jalas bagaimana cirinya, berikut daftar gejala yang sering dialami oleh 70 persen orang dewasa yang terinfeksi hepatitis B. Gejala tersebut baru muncul setelah seseorang terinfeksi hepatitis B.
- Kulit atau mata menguning, kondisi ini sering disebut penyakit kuning
- Mudah lelah dan capai
- Hilang nafsu makan dan mual
- Air seni berwarna gelap
- Demam
- Nyeri sendi
Dr Poernomo Boedi Setiawan, SpPD KGEH mengatakan, masa pasien dengan gejala seperti itu merupakan masa aktif penyakit hepatitis B. Pada masa tersebut, Anda sebaiknya masuk ke dalam taraf pengobatan intensif.
"Pengobatan dilakukan dengan menyuntik antivirus," jelas dia pada acara media briefing Indonesia Viral Hepatitis B di hotel JW Marriott, Jakarta.
Dr Poernomo menambahkan, antivirus bagi hepatitis B kini sudah makin mutakhir. Penelitian terbaru berhasil menyiptakan immuno modulator, yakni obat antivirus yang bisa merangsang imun tubuh, sehingga hasil antivirus bisa berguna melawan virus hepatitis B dalam tubuh yang belum terdeteksi. Sedangkan, antivirus yang sudah ada hanya berperan untuk melawan virus yang sudah ganas.
"Immuno modulator atau PEG Interferon Alfa-2a mampu merangsang kekebalan tubuh, sehingga kesembuhan klinis terus meningkat, bahkan setelah pasien tidak mengonsumsi obat tersebut," tuturnya.
Dia menambahkan, 12,2 persen pasien yang mengonsumsi PEG berhasil mencapai kesembuhan klinis berdasar penelitian pada jangka waktu lima tahun setelah terapi berakhir. Sedangkan, obat antivirus biasa hanya mencapai tingkat kesembuhan 3,5 persen.
Meski demikian, dia mengatakan, penyakit hepatitis B terus diteliti dan makin hari akan banyak terobosan baru bagi kesembuhan pengidap penyakit ini. "Yang terpenting, virus hepatitis B tidak bisa menjadi alasan untuk menolak status seseorang dalam kehidupan sosial. Karena, obatnya akan terus berkembang," kata Dr Poernomo.
VIVAnews.com
Pemerintah Akan Membangun Lembaga Riset Kelapa Sawit Berskala Besar
Indonesia merupakan produsen terbesar kelapa sawit. Untuk menghadapi persaingan industri kelapa sawit yang makin gencar sekarang ini, dalam waktu dekat pemerintah akan membangun Lembaga Riset dan Pengembangan Kelapa Sawit berskala besar. “Lembaga ini nantinya akan berstatus BUMN,”demikian diungkapkan Menteri Pertanian Anton Apriyantono seusai memimpin rapat Dewan Pengarah Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) yang didampingi oleh Dirjen Perkebunan Achmad Mangga Barani dan Ketua DMSI Franky Widjaja, di Jakarta, Rabu (6/5). Rapat ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan kelapa sawit, mulai dari pemerintah, pengusaha, sampai petani.
Melalui lembaga riset ini menurut Menteri Pertanian, pemerintah akan berupaya mengembangkan segala bentuk teknologi kelapa sawit mulai dari perbenihan hingga ke industri turunana minyak sawit (down stream industry). Sedangkan mengenai pengaturan soal substansi riset dan pengembangan menurut Menteri Pertanian akan digodok di dalam sebuah Konsorsium Sawit. Konsorsium ini terdiri dari berbagai unsur, seperti pemerintah, BUMN maupun swasta yang bergerak di bidang perkebunan sawit. Untuk mendukung konsorsium sawit ini pemerintah akan menyiapkan dana Rp. 3 miliar per tahun.
Lebih lanjut Menteri Pertanian juga mengungkapkan pembentukan lembaga baru ini tidak akan terlepas dari kerja sama antar pemangku kepentingan lewat Konsorsium Sawit. Kerja sama penelitian ini juga akan memfasilitasi pembangunan kebun plasma nutfah seluas 1.000 hektar di Sijunjung, Sumatera Barat. Dengan demikian nantinya lembaga riset ini akan ada dua yakni Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) milik pemerintah dan PT. LRPKS (Lembaga Riset Pengembangan Kelapa Sawit) yang berstatus BUMN. Kedua lembaga ini akan mengakomodasi kepentingan masing-masing. Apalagi Indonesia kini memiliki 7,1 juta hektar kebun kelapa sawit dengan produksi 19,2 juta ton minyak kelapa sawit mentah (CPO) tahun 2008. Pemerintah kini berkonsentrasi meningkatkan produktivitas tanaman untuk meraih produksi 40 juta ton CPO di tahun 2020.
Rencana penbentukan Lembaga riset ini juga mendapat dukungan dari kalangan swasta. Menurut Ketua DMSI, Franky Widjaja, lembaga riset dan pengembangan ini sangat penting untuk mendukung peningkatan produksi dalam negeri. Dengan begitu kata Franky Wijaya, kerja sama penelitian dan pengembangan kelapa sawit sangat penting untuk jangka panjang. Selanjutnya pemerintah bisa menikmati efek domino (multiplier effects) dari peningkatan kesejahteraan petani yang menghasilkan CPO lebih banyak. Untuk itu DMSI saat ini tengah memperjuangkan agar sebagian dana hasil bea keluar CPO dapat dimanfaatkan untuk penelitian dan pengembangan tersebut.
Pengendalian Penyakit Layu Pada Tanaman Pisang
Pendahuluan
Penyakit layu pada tanaman pisang telah menjadi masalah nasional karena penyakit ini telah tersebar luas dan banyak merusak tanaman pisang di Indonesia dan belum berhasil dikendalikan. Penyakit layu ini disebabkan oleh: Cendawan Fusarium oxysporum if.sp. cubense; dan Bakteri Ralstonia solanacearum.
Gejala layu Ralstonia sp. pada daun
Sifat Patogen
Merupakan patogen tular tanah dan sanggup bertahan lama dalam tanah tanpa ada tanaman pisang. Sekali tanah terinfeksi oleh patogen ini, patogen dapat bertahan dan menjadi sumber inokulum/infeksi yang sukar dibersihkan.
Patogen dapat menyebar melalui bibit, alat-alat pertanian, tanah, angin yang menerbangkan tanah terinfeksi, serta terbawa melalui pengairan . Penyebaran patogen (layu bakteri) dapat juga melalui influorescens (bunga) yang ditularkan oleh serangga. Penularan oleh serangga menyebabkan penyakit tersebar dengan cepat terutama pada saat pembuahan.
Patogen ini memiliki kecepatan penyebaran yang tinggi. Sebagai patogen luka, akan sinergik menimbulkan layu jika ada seranagn nematoda.
Sangat dipengaruhi oleh tipe tanah. Layu fusarium akan berkembang pada tanah berpasir yang masam, dan kurang berkembang pada tanah yang liat dan alkalis. Sebaliknya, tanah yang liat dan alkalis akan sangat kondusif bagi layu lakteri (Ralstonia solanacearum).
Gejala layu Ralstonia sp. pada buah
Pengendalian
1. Cara Bercocok tanam
a. Penanaman bibit bebas penyakit (kultur jaringan atau anakan tanaman/rumpun sehat), serta tidak menenm bibit dari daerah terserang penyakit layu.
b. Pemupukan dengan pupuk organik (pupuk kandang atau pupuk kompos),
c. Menghindari terjadinya pelukaan akar saat pemeliharaan tanaman, pemindahan bibit, dan pembumbunan.
d. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang tidak sefamili dengan pisang, misalnya jagung.
e. Pengapuran atau pemberian abu dapur jika pH tanah rendah (minimal 15 abu dapur jika pH tanah (minimal 15 hari sebelum tanam)
f. Santasi gulma
g. Tidak menanam tanaman inang lainnya, yaitu jenis Heliconia (pisang pisangan) dan Kanna (bunga tasbih)
h. Perbaikan drainase kebun
i. Memotong bunga jantan segera setelah sisir buah terakhir dbentuk
j. Pengerodongan bunga dan buah dengan plastik
k. Tanam Pindah cepat secara periodik (± 3 Tahun)
2. Cara Fisis/Mekanis
a. Memotong bunga jantan (jantung pisang) tanpa menggunakan alat (dengan tangan) segera setelah sisir buah terakhir terbentuk
b. Pembongkaran tanaman sakit kemudian membakarnya (jika memungkinkan)
c. Penggenaan, jika memungkinkan
3. Genetis
a. Penggunaan varietas tahan sesuai dengan kondisi setempat.
4. Biologis
a. Penggunaan agens antagonis (Gliocladium sp, Trichoderma sp.) dan Pseudomonas fluoressence, yang dicampur dengan pupuk organik.
5. Kimiawi
a. Alat-alat pertanian yang digunakan untuk memotong tanaman sakit dicuci bersih dengan sabun atau klorox 1% (misalnya Bayclin) dan dikeringkan di bawah sinar matarai.
b. Eradikasi tanaman sakit dengan menyuntikkan larutan herbisida 5-15 ml/tanaman atau dengan minyak tanah.
c. Benih pisang dicelupkan dalam larutan desinfektan (suci hama) sebelum ditanam.
6. Peraturan
a. Tidak membawa bibit (anakan) dari daerah serangan)
Gejala layu Fusarium sp. pada batang (penampang irisan)
Bertani “Nyeblok”
Bertani adalah suatu keniscayan bagi masyarakat ang tinggal di desa-desa. Begitu banyak kegiatan pertanian yang dilakukan petani dari mulai bertanam padi, jagung, palawija, singkong, pisang, nenas, karet, albasia, dan lain sebagainya yang kesemuanya itu dibutuhkan oleh kita sebagai penikmat (konsumen).
Ditengah modernisasi yang semakin berkembang saat ini, ketika rasa kesetiakawanan semakin rendah dan masyarakat semakin bersikap individualistis, ternyata masih ada masyarakat kita yang masih memegang teguh ajaran nenek moyang tentang makna “hidup bersosial”. Ketika di daerah subang atau karawang, para petani I empunya sawah menyewa orang untuk mengerjakan pekerjaan disawah seperti tandur, ngoyos atau ngarambet, petani di kabupaten Lebak provinsi Banten justru saling membantu tanpa diminta. Pada saat salah satu petani terlihat akan mulai menanam padi, para tetangga pun berdatangan membantu menanam tanpa diminta dan dikomando. Begitu pula ketika saatnya ngoyos atau ngarambet, secara spontan tetangga itu pun turun ke sawah tanpa dibayar.
Pada waktu panen tiba, si empunya sawah mempersilahkan tetangga yang telah membantu tandur dan ngoyos tadi untuk ikut panen menikmati hasil keringat mereka. Karena pada waktu tandur dan ngoyos mereka tidak dibayar, maka pada saat panen inilah keringat mereka dibayar. Dari 5 bakul padi yang didapat, 4 bakul untuk si empunya sawah, 1 bakul untuk tetangga yang membantu itu, bahkan sering pula si empunya sawah memberikan lagi 1 bakul untuk mereka. Itulah yang disebut bertani “Nyeblok”.
Dengan sistem tersebut, ketahanan pangan masyarakat di desa itu dapat terjaga kuat karena rasa kesetiakawanan yang tinggi dan rasa saling membutuhkan satu sama lain. Untuk makan sehari-hari, masyarakat di desa tersebut tidak ada yang membeli beras di pasar, sebab masing-masing rumah memiliki lumbung padi sendiri-sendiri. Dengan adanya lumbung tersebut, kebutuhan makan mereka tercukupi hingga maa panen yang akan datang.
Namun, dengan gempuran arus modernisasi seperti sekarang, akankah sistem “Nyeblok” tersebut dapat bertahan? Ketika pemuda-pemuda desa lebih tertarik dan bangga bekerja di kota daripada menjadi petani, akankah kesetiakawanan seperti itu dapat terus terjaga?
Keterangan:
Tandur : Menanam padi
Ngoyos (ngarambet) : Membersihkan gulma
Bagan Warna Daun
Menghemat Penggunaan Pupuk N pada Padi Sawah
Hasil panen yang tinggi dapat diperoleh melalui pemupukan berimbang yang memperhatikan ketersediaan dan keseimbangan hara dalam tanah serta tingkat serapan hara sesuai kebutuhan tanaman. Pemakaian pupuk N yang kurang dari kebutuhan tanaman akanmemberikan hasil panen padi yang rendah atau tidak optimal, sebaliknya pemberian pupuk N secara berlebihan akan menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan terhadap infeksi penyakit dan mudah rebah.
Bagan Warna Daun (BWD) dapat membantu petani untuk mengetahui apakah tanaman perlu segera diberi pupuk N atau tidak dan berapa takaran N yang perlu diberikan. Pemberian pupuk N berdasarkan pengukuran warna daun dengan BWD dapat menekan biaya pemakaian pupuk sebanyak 15-20 % dari takaran yang umum digunakan petani tanpa menurunkan hasil. BWD berbentuk persegi panjang dengan 4 kotak skala warna, mulai dari hijau muda hingga hijau tua.
Gambar 1. Bagan Warna Daun (BWD) tampak depan dengan 4 skala warna (atas) dan tampak belakang dengan petunjuk penggunaan (bawah).
BWD dan Tingkat Hasil
Penggunaan BWD berkaitan erat dengan berapa tingkat hasil tinggi yang biasa dicapai di suatu tempat. Pada umumnya tingkat hasil di musim kemarau berbeda dengan tingkat hasil dii musim hujan. Oleh karena itu tingkat hasil yang tercantum dalam Tabel 1 dan 2 bukan berarti hasil tertinggi yang ingin dicapai di semua tempat. Misalnya, di suatu tempat yang tingkat hasil tingginya 6 t/ha, pemberian urea melebihi takaran yang dianjurkan belum tentu dapat menaikkan hasil menjadi 7 atau 8 t/ha.
Takaran Pupuk N Sebagai Pupuk Dasar
Pada saat pemupukan dasar, BWD tidak diperlukan.
Berikan 50-75 Kg Urea/ha sebagai pupuk dasar atau pemupukan N pertama, sebelum tanaman berumur 14 HST.
Selain pupuk tunggal, pupuk majemuk juga dapat digunakan sebagai pupuk dasar.
Cara dan Waktu Penggunaan BWD
Cara Penggunaan BWD
1. Pilih secara acak 10 rumpun tanaman sehat pada hamparan yang seragam, lalu pilih daun teratas yang telah membuka penuh pada satu rumpun.
2. Letakkan bagian tengah daun di atas BWD (lihat gambar 2) dan bandingkan antara warna daun dengan warna panel. Jika warna daun berada diantara 2 skala, gunakan rata-ratanya, misalnya 3,5 untuk warna antara 3 dan 4.
Gambar 2. Pengukuran warna daun padi dengan BWD
3. Sewaktu mengukur warna daun dengan BWD, jangan menghadap sinar matahari, sebab pantulan sinar matahari dari daun padi dapat berpengaruh pada pengukuran warna daun.
4. Pilih waktu pembacaan daun pada pagi atau siang hari. Hindari menilai warna daun dengan BWD ditengah terik matahari.
5. Lakukan pengukuran pada waktu yang sama dan oleh orang yang sama.
6. Jika 6 atau lebih dari 10 daun yang diamati warnanya berada dalam batas kritis, yaitu di bawah skala 4, maka tanaman perlu segera diberi pupuk N susulan sesuai dengan tingkat hasil di tempat bersangkutan,
Waktu Penggunaan BWD
Pilih satu dari 2 waktu penggunaan berikut:
1. Berdasarkan waktu yang telah ditetapkan, biasanya berdasar pertumbuhan tanaman, yaitu saat pembentukan anakan aktif (21-28 HST) dan primordia (35-40 HST). Dengan cara ini hanya perlu dilakukan 2 kali pengukuran warna daun padi dengan BWD, karena pada pemupukan pertama tidak perlu digunakan BWD.
2. Berdasarkan kebutuhan riil tanaman, dengan membandingkan warna daun padi dengan skala BWD secara berkala, setiap 7-10 hari sejak 21 HST sampai 50 HST. Tanaman segera diberi pupuk N bila warna daun berada di bawah skala 4 BWD. Dengan cara ini petani perlu sering ke sawah untuk membandingkan warna daun padi dengan BWD.
Penentuan Takaran Pupuk N
Berdasarkan waktu yang telah ditetapkan
BWD hanya digunakan pada pemupukan ke 2 atau stadia anakan aktif (21-28 HST) dan pemupukan ke 3 atau primordia (35-40 HST) dengan membandingkan warna daun dengan skala BWD.
Bila warna daun berada pada skala 2 sampai 3, berikan 125 Kg Urea/ha kalau hasil yang biasa dicapai di tempat itu adalah 7 t/ha GKG. Berikan 75 Kg Urea/ha bila tingkat hasil adalah 5 t/ha GKG (perhatikan Tabel 1).
Bila warna daun berada antara skala 3 dan 4, berikan 100 Kg Urea/ha bila hasil yang biasa dicapai adalah 7 t/ha GKG. Cukup berikan 50 Kg Urea/ha bila tingkat hasil adalah 5 t/ha GKG.
Bila warna daun berada antara skala 4 dan 5, berikan 50 Kg Urea/ha bila hasil yang biasa dicapai adalah 7 t/ha GKG. Tanaman tidak perlu dipupuk N kalau bila tingkat hasil adalah 5-6 t/ha GKG.
Berdasarkan kebutuhan riil tanaman
1. Pengukuran warna daun padi dengan BWD dimulai pada 21-28 HST, dilanjutkan setiap 7-10 hari sekali sampai tnaman berumur 50 HST.
2. Apabila tingkat hasil di suatu tempat sebesar 7 t/ha GKG, takaran pupuk urea susulan yang diperlukan adalah 100 Kg/ha. Bila tingkat hasil adalah 5 t/ha GKG, cukup diberikan 50 Kg Urea/ha (lihat Tabel 2).
5.22.2009
Si Kukut
“Si Kukut”, begitulah kami menyebutnya. Dialah yang kini menemani saya ke tempat bekerja. Setap hari tiak kurang dari 100 km ditempuhnya mengantar saya pergi dan pulang bekerja. Sebutan “Si Kukut” terlontar karena usianya yang cukup tua dan yang pasti jenis dan modelnya sudah mendekati “kuno”, namun tetap dipelihara oleh Bapak saya. Kukut sendiri berasal dari bahasa sunda “dikukut” yang artinya “dipelihara”.
Sebelum saya gunakan, “Si Kukut” sebenarnya sudah berada di gudang selama hampir 2 tahun. Dia dibiarkan sendiri, sepi, berdebu, kedinginan, dan yang pasti pajaknya tidak dibayarkan. Kemudian, saya datang dengan kabar gembira dan langsung membawanya ke bengkel. Dua hari “Si Kukut” dibengkel, dibedah dan disatukan kembali kabel-kabel yang sempat putus, dan akhirnya dia bia kembali mengaum dan menggeram bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya.
Sembilan belas (19) tahun yang lalu, tepatnya tahun 1990, mertua saya (Bapak) membeli “Si Kukut” dengan hasil keringatnya mengajar di Sekolah Dasar. Selama 15 tahun, “Si Kukut” menemani Bapak dengan setia pergi dan pulang mengajar.

Setelah Bapak pensiun, “Si Kukut” dipergunakan oleh adik istri saya sebagai kendaraan operasional dari rumah ke toko dan sebaliknya. Karena tidak dirawat dengan semestinya, :Si Kukut” pun mulai “ngambek”. Lalu beralih kepemakaian ke tangan kakanya istri saya yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah daerah kabupaten lebak. Karena jarak dari rumah ke kantornya cukup jauh, maka diguakanlah “Si Kukut” sebagai kendaraan “dinas”. Ditangan beliau, keadaan “Si Kukut” sedikit lebih baik dari sebelumnya. Oli, busi, ban, dan accu lumayan diperhatikan.
Namun, badai sekali lagi datang menggulung kehidupan “Si Kukut”, kali ini kakak istri saya itu mendapat jatah motor dinas dari kantornya. “Si Kukut” pun mulai jarang diperhatikan dan yang pada akhirnya benar-benar ditelantarkan selama ua tahun di gudang yang pengap dan berdebu.
Kini, cerita bahagia dimulai lagi. Dengan semangat 45, “Si Kukut” menemani saya menempuh hari-hari penuh perjuangan mencari rejeki dan membangun negeri ini. Mudah-mudahan perjuangan “Si Kukut” mendapatkan balasan yang berlipat, amin…